Menikmati Sepotong Kehidupan


“Kalian tau? Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih. Salah satunya dengan menerjemahkan banyak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim. Saat melihat gumpalan awan di angkasa. Saat menyimak wajah-wajah lelah pulang kerja. Saat menyimak tampias air yang membuat bekas di langit-langit kamar. Dengan pemahaman secara berbeda maka kalian akan merasakan sesuatu yang berbeda pula. Memberikan kebahagiaan utuh yang jarang disadari, atas makna detik demi detik kehidupan.”

TereLiye, novel ‘Sunset Bersama Rosie’

Dan Kesedihan Dihabisi Oleh Waktu


Kita hapus nomor HP-nya di phone book
Kita delete alamat email-nya di address book
Kita buang whatsapp-nya
Kita disconnect BBM-nya
Sayang beribu sayang,
Kita sudah terlanjur ingat
Di luar kepala hafal nomernya
Bahkan saat tidur pun bisa mengigau pin BB-nya

Kita hapus message-nya
Kita delete foto-fotonya
Kita remove dari friendlist, bahkan block sekaligus
Kita usir jauh-jauh dari home
Sungguh jangan ganggu lagi di dunia maya
Sayang beribu sayang,
Kita tetap kepo, stalking, ngintip
Ingin tau apa yang dia lakukan
Bahkan bangun tidur, masih ileran
First thing in the morning

Inilah sajak melupakan jaman modern
Sungguh malang anak sekarang
Karena jaman dulu,
Orangtua kita paling cukup membakar tumpukan surat
Atau mengirim telegram: ‘lupakan saja, koma, jangan hubungi aku lagi. Titik habis’
Dan kesedihan dihabisi oleh waktu

 

*Repost dari Note Tere Liye : Klik disini

Separuh Hati Yang Tersisa


“Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri. Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa. Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga.”

–Tere Liye, novel ‘Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah”