Dear Momon..


image

Hai, Mon…
Rindu sekali rasanya dengan tawa kita dulu..
Kini semua senyap, seperti ruang kosong yang meninggalkan jarum jam menghitung detik perlahan…

Dear Momon…
Saat aku menulis ini, hujan sedang turun lebat sekali…
Bukankah kita selalu suka dengan hujan… merasakan dingin dan membiarkan wajah basah karena tampiasnya itu menyenangkan…
Berlarian diantara rintiknya yang menderas itu hal ternyaman..

Kalau sudah bicara tentang hujan, kita akan menjelma menjadi duo romantis sepanjang masa, seperti paling mengerti tentang rindu dan cinta..
Padahal, apalah kita?

Dear Momon,
Akhir-akhir ini senja jarang menampakkan pendarnya..
Mendung lebih dulu berkuasa di langit raya, menutupi merahnya langit yang mewakili gemuruh rasa…

Mon…
Hari Minggu lalu aku bertemu dengan beberapa teman kuliah dulu, mereka ceria dan akrab sekali..
Aku jadi merindukanmu..
Bicara tentang banyak hal hingga larut malam..
Diam menikmati gemintang di malam-malam terang..
Tidak ada sahabat seromantis itu…
Andai kamu masih ada..

Oh iya, Mon..
Taukah, kamu? Aku sudah menemukan pelabuhan hati..
Kalau aku ceritakan siapa dia, kamu pasti tidak akan percaya…
Dia adalah laki-laki yang dulu ketika kamu melihat fotoku dengannya, kamu selalu mengatakan, “Cocok lho, kalian”
Aku menyayanginya, Mon..
Sangat sayang padanya..

Dia adalah orang yang setahun lalu kuceritakan kepadamu..
Kutulis ditiap kalimat-kalimat romantisku, dan kusebut ditiap larik doaku..

Ah, Mon..
Jika bisa kuceritakan padamu..
Rasanya tak kan habis kalimat untuk menceritakan rasa dalam mimpi-mimpi selama ini..

Dear Momon,
Tenanglah disana..
Doaku selalu bersamamu..
Memelukmu dari kejauhan, menari bersama rindu dan kenangan..

Sahabat terbaik itu kamu…

Posted from WordPress for Android

Jika Kita Punya Teman


Jika kita punya teman yang nggak peka, ya sudah, nggak pa-pa, kemampuannya memang hanya sampai disitu…

Jika kita punya teman yang merasa paling benar sendiri, bebal, ya sudah nggak pa-pa, memang kemampuannya hanya sampai disitu…

Jika kita punya teman yang belum bisa menghargai oranglain, ya sudah, nggak pa-pa, memang kemampuannya hanya sampai disitu…

Jika kita punya teman yang egois, ya sudah, nggak pa-pa, memang hanya sampai disitu kemampuannya…

Kadang diam bisa jadi sikap paling benar untuk menghadapi orang-orang seperti itu, setelah berbusa menasehati mereka…

Posted from WordPress for Android

Berpihak atau Netral?


Narablog sekalian mungkin pernah mengalami ini. Di kampus, organisasi, atau kantor. Ini tentang pilihan. Berpihak atau netral.

Ketika seorang temanmu di kantor atau organisasi tiba-tiba bercerita tentang teman sekantor lain yang menurut dia menyebalkan, maka apa yang akan kamu lakukan? Ikutan merasa sebal atau biasa aja?

Sebagian besar orang, terutama cewek, pasti akan ikutan sebel, dan itu dikarenakan unsur kedekatan. Saya juga biasanya begitu.

Tapi narablog, sikap ikut-ikutan sebal itu adalah sikap yang buruk. Ada baiknya narablog bersikap netral saja. Karena sebenarnya kita nih yang jadi tempat curhat, nggak tau tentang kebenaran latar belakang cerita menyebalkan dari temen kita tadi. Bisa jadi temen kita sebel gara-gara ulahnya sendiri atau cuma denger-denger saja.

Sebagai teman yang dianggap baik karena dianugrahi sebagai tempat curhat, menjadi pendengar yang baik saja merupakan tindakan paling benar. No comment, just listen to your friend, dan jika memang harus komentar, berkomentar yang netral saja. Seperti, ow, hmm, ya sudah orang kan beda-beda. That’s all. Jangan malah kasih komentar yang ngompor-ngompori dan bikin makin panas. Karena itu bisa berakibat fatal pada banyak hubungan sosial di TKP.

Jadi pilih netral atau berpihak? Netral sajalah. Meskipun yang curhat adalah temen kita paling dekat sekali, ya bersikap biasa aja. Biar cerita menyebalkan itu cukup jadi urusan mereka, dan kita cukup jadi pendengar yang budiman.

Demikian.