“Masalah” Komunikasi


Pasti narablog sering menemui atau mengalami yang namanya “masalah” komunikasi. Tentu saja bukan karena kita gagu, bisu, atau apalah itu arti masalah komunikasi secara harviah. Tapi ini tentang “masalah” cara berkomunikasi.

Hari ini saya bertemu dengan seseorang. Saya menyebutnya teman. Meski kami belum pernah ketemu, sejak awal kenal tahun 2009 lalu, melalui social media.

Dia seorang desain grafis, seumuran dengan kakak saya. Selama berinteraksi melalui dunia maya, saya tidak pernah menyangka teman saya itu punya “masalah” komunikasi. Ngobrol lewat chat ya biasa aja.

Tapi hari ini, pas saya ketemu dan denger dia ngobrol, ternyata mas itu lebih pendiem. Kalo saya ngliat gerak-geriknya, rasanya mas itu grogi bertemu orang baru. Padahal ganteng lho, hehe. Ini membuktikan bahwa tampang ganteng pun bisa grogi juga. “But akhirnya kita ketemu Mas Adi, nice to see you..”

Apa cuma teman saya itu yang grogi kalo ketemu orang? Tentu tidak, saya juga. Malah mungkin lebih parah. Dulu ketika saya kuliah, saya sempat terjangkit sindrom komplikasi. Antara takut ngomong, grogi, takut salah, dan deg-degan. Jadi deh “masalah” komunikasinya amat kompleks dan komplit. Jadi dulu kalo saya ada dalam forum-forum kampus, saya lebih pendiam dan memilih untuk menjadi pendengar yang baik.

Apa sekarang sudah teratasi? Sedikit. Saya sedikit bisa menguasai keadaan jika berada dalam lingkungan baru. Ya sindrom komplikasi itu tidak serta merta hilang, masih tersisa. Saya selalu berusaha keras menutupi sang sindrom komplikasi dengan mencoba tenang, mendengarkan, dan mengendalikan diri. Mencoba tersenyum, ikut ketawa meski sebenernya nggak tau apa yang lucu. Walau kadang gagal. Tapi ya wis at least I’ve tried.

Kalau narablog sekalian pernah punya “masalah” komunikasi juga kah?