Move On, InsyaAllah


Yang namanya hidup, itu pasti ada senang dan sedih, ada hidup dan mati, ada jatuh cinta dan patah hati, ada tawa dan tangis, dan begitu seterusnya. Semuanya diciptakan Allah berpasangan, saling melengkapi.

Hari ini, ketika saya sedang surfing didunia maya, mengintip sebentar timeline akun facebook saya. Ada profil seseorang yang mengejutkan, membuat mata saya terbelalak. Seseorang dari sebuah profil tengah mengganti photo profilnya. Mengejutkan, karena sudah terlalu lama saya tidak kepo mengunjungi page-nya.

Dia adalah, si 16 September. Iya, angka 16 lainnya yang pernah mengisi ruang kosong dalam hati saya. Angka 16 lainnya yang pernah mewarnai mimpi-mimpi malam saya dengan lukisan keindahan dan nada indah lantunan cinta. Dia yang sempat memberikan bunga edelweis cantik, yang katanya adalah lambang sebuah keabadian. Tapi itu dulu.

Eh, kenapa saya mengatakan 16 lainnya? Karena saya pernah jatuh cinta pada tiga orang yang sama-sama lahir ditanggal 16.

Sayangnya, mungkin saya belum berjodoh dengan si angka 16 yang satu ini. Tahun 2013 lalu, dia tiba-tiba pergi tanpa pesan tanpa kabar. Kami tentu tidak berpacaran, hanya dekat. Dekat sekali tapi. Dia seketika pergi meninggalkan hati yang telah melayang menuju langit cinta ketujuh. Menyisakan sejuta tanda tanya dalam hati yang sampai sekarang belum juga terjawab.

Apakah saya kecewa? Tentu. Waktu itu hati saya seperti terhunus pedang, tersayat pisau berkali-kali, lengkap dengan taburan garam dan siraman cuka. MasyaAllah sakitnya. Hampir setiap hari saya menangis, setiap malam saya meratap, bahkan meski dalam tidur pun, hati terasa tersayat dalam. (*lebay 😀 hehe. Beberapa bulan berlalu, airmata ini tentu sudah kering, namun hati ini belum berhenti menangis.

Tapi itu dulu. Kejadian itu sudah setahun lebih berlalu, mungkin hampir dua tahun. Apakah saya masih merasakan hal yang sama? Tentu tidak. InsyaAllah sudah tidak. Bahkan ketika mengetahui dia mengganti photo profile tadi, saya hanya tersenyum, tertawa. Merasa bodoh dengan kejadian masa lalu yang biarlah menjadi masa lalu, dan jangan pernah kembali lagi. Tidak ada beban lagi seperti dulu. InsyaAllah saya sudah ikhlas. Kalau bahasa gaulnya, saya sudah MOVE ON. Jika memang dia bukan jodoh saya, semoga Allah memberikan kebahagiaan berlimpah untuk dia.

Meskipun sampai sekarang, saya tidak pernah tau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya. Apakah dia juga mencintai saya, kenapa dia pergi begitu saja tanpa pesan, dan apakah-apakah lainnya yang terus menusuk hati, merobek mimpi-mimpi malam hari, dan mengalirkan airmata tanpa henti. Itu dulu. InsyaAllah sekarang semuanya sudah selesai. Bunga edelweis cantik dari dia tentu masih saya simpan. Sengaja tidak saya buang. Saya hanya ingin menghargai masa lalu dan kenangan. Lagian, sayang juga. Saya nggak sempat beli edelweis ketika ke Bromo awal tahun lalu. Jadi disimpan saja.

Saya belum jatuh cinta lagi. Bukan tidak membuka hati. Hanya ingin sungguh-sungguh mencari seseorang baik yang mampu membimbing, dan mendekatkan diri ini pada Sang Khalik. Sembari menunggu, memperbaiki diri itu sudah pasti. Semoga Allah meridhoi niat hati yang tidak ingin main-main lagi. Karena janji Allah, “Wanita baik, untuk lelaki baik. Begitu pula sebaiknya”

Semoga segera dipertemukan. Amin

Mencari Dunia


Seperti tidak memiliki Tuhan saja. Mencari dunia dengan meminta pertolongan pada yang selain Dia. Apa mungkin ini yang dinamakan beragama tapi tak berTuhan? Saya nggak tau.

Bagaimana jalan mencari rizki tentu terserah pada masing-masing orang. Mau dengan cara halal atau haram, mau meminta pada Sang Pencipta atau Perewangan, terserah, itu pilihan. Yang saya tidak habis pikir adalah mengapa ada orang yang hanya karena mencari dunia kemudian melakukan cara yang mirip dengan orang yang tidak mengenal Tuhan?

Bukannya rizki kita diatur Allah, segala sesuatu di dunia ini milik Allah, mintanya tentu pada Allah, bukan pada mereka yang hanya pura-pura sebagai wakil Tuhan, malah jadi tidak jelas jluntrungannya.

Semoga Allah membuka hati mereka. Itu saja.

 

Diary – Malam Minggu


Malam memiliki kesibukannya..
Lampu-lampu kota satu persatu menjalankan perannya
Menerangi jalanan yang mulai tak terlihat
Temaramnya menghangatkan siapapun yang melintas di bawahnya..

Bermacam wajah menjadi satu
Mencuri perhatian setiap mata yang melihat
Mengurai rasa dalam tiap hati yang melirik..

Ini malam minggu..
Harusnya semua senyum tersungging manis ditiap bibir
Harusnya semua hingar bingar cinta menari diantara syahdu nyanyian hati
Entah siapa yang memulai,
Malam ini selalu dinobatkan sebagai malam suka cita bagi siapa saja

Padahal,
Mungkin masih ada hati yang tersakiti malam ini
Mungkin masih ada cinta yang menunggu tanpa henti

Namun, apapun itu..
Malam ini tentu tetap syahdu dengan segala situasinya

Bagi siapa?

Bagi siapa saja tentunya.
Tergantung bagaimana hati ini merasa
Tergantung bagaimana kita mensyukurinya..

Selamat Malam Minggu…

Jangan lupa shalat ya… 🙂

 

Sabtu, 21 Juni 2014