Hujan Bulan Juni


Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucap
Diserap akar pohon bunga itu

[Hujan Bulan Juni– Oleh: Sapardi Djoko Damono]

Aku Ingin


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

1989

[Dalam Buku ‘Hujan Bulan Juni‘ – Sapardi Djoko Damono]

Porsi Masing-Masing


Setiap manusia dilahirkan dengan membawa suratannya masing-masing. Semua sudah pada porsi milik sendiri. Cukup. Tidak kurang, tidak lebih. Maka jika suatu hari kita bertemu dengan seseorang yang  bahagia tidak terkira, senyumnya bertebaran dimana-mana, bukan berarti cerita hidupnya selalu bahagia. Kita tidak pernah tau apa-apa yang pernah dia lalui untuk menjadi sebahagia hari ini. Pun kita juga tidak tau, apa yang ada dalam hatinya saat itu. Bisa jadi, dia termasuk orang-orang ikhlas, pandai sekali bersyukur dengan apa yang dia miliki, bukan sibuk menggurutu sana sini.

Hidup itu tentang menjalani takdir masing-masing, untuk dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan dihari akhir. Belajarlah mensyukuri nikmat-Nya. Karena bahagia terletak dihati. Bagaimana kita menerima dan mensyukuri hari kemarin, hari ini, dan esok hari.

 

*Tulisan ini intinya sama dengan posting saya yang berjudul “Pesan Dalam Secarik Kertas”. Saya tulis berkali-kali, sambil mengingatkan diri sendiri agar pandai mensyukuri.