Semoga Masih Ada


Satu keluarga di Desa Kiyoten, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, mengalami keracunan. Bapak, ibu dan tiga orang anaknya mengalami keracunan seusai mengonsumsi telur rebus. Telur itu dibeli dengan harga murah, yakni Rp 6.000 per 10 biji di Pasar Desa Bug Duwur, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Salah seorang dari anak pasangan suami istri ini, yakni M Agung Widodo (13) akhirnya meninggal. 
 
Paduka yang mulia, di tengah hingar bingar koalisi yang sedang kalian bicarakan, tidak tahukan kalian berita ini? Di tengah tawa bahagia terpilih menjadi wakil rakyat, bersorak horee di sana dapat dua, di sini dapat tiga kursi, tidak tahukah kalian kabar ini? Satu keluarga keracunan karena membeli telur murah. Mereka mau membeli pizza, spaghetti, atau daging sapi, tapi tidak terbeli, jadilah membeli yang murah, dengan resiko tinggi. Sungguh malang akhirnya.
 
Tuan, Nyonya yang pakaiannya wangi2, licin nan rapi, tidak tahukah kalian berita mengenaskan ini? Di tengah tawa riang kalian karena dapat suara sekian, kursi empuk terbayang, tidak tahukah kalian kabar menyedihkan ini? Satu keluarga di sana, satu keluarga di sini, berjuta keluarga di negeri ini masih bergulat dengan kemiskinan yang nyata. Yang suara mereka hanya berharga saat pemilu saja, setelah itu, lupakan. Orang2 ini mau saja makan makanan lezat, tapi apa daya bawang merah, cabai, semuanya melambung tinggi. Hingga akhirnya, apapun yang ada, itulah pilihannya.
 
Wahai orang2 hebat yang sekarang sibuk sekali bertempur di media sosial, membela elit dan partai politiknya, tidak tahukah kalian berita naas ini? Atau kalian terlalu sibuk memposting tentang kelompok2 mulia kalian? Terlalu sibuk berperang kata2, membela jagoan masing2, penuh timeline kalian dengan kelompok2 mulia kalian, hingga lupa, ada 30 juta warga miskin di negeri ini yang hanya berpenghasilan 10ribu per hari. Ratusan ribu anak2 putus sekolah. Jutaan penduduk tidak punya akses air bersih, lampu, jangan tanya soal facebook atau twitter. 
 
Semoga masih ada petarung tangguh tersisa yang masih peduli. Yang terus bekerja dalam senyap membantu banyak orang. Semoga masih ada petarung sejati tersisa yang masih peduli. Yang terus mengirim harapan, bantuan, tanpa perlu membawa spanduk, poster apalagi sticker kecil: pilihlah kami.
 
Semoga masih ada.

  • Tulisan ini saya Repost dari posting milik penulis favorit saya ‘Darwis Tereliye’. Bukan bermaksud mendewakan Tereliye, hanya ingin berbagi dengan narablog sekalian. Untuk mengambil intisari tulisannya. Bagus jika bisa membuat siapapun pembacanya menjadi lebih baik. Yuk, be better because of Allah 🙂

Cerita Negeri Ini


Aneh bagi saya, ketika seorang calon pemimpin meminta pemimpin dari daerah lain untuk mendompleng popularitasnya.

Rasanya baru kali ini, ada seorang pemimpin yang diminta untuk jadi juru kampanye. Mendompleng suara seorang calon pemimpin agar terpilih, lantaran mereka berasal dari partai politik yang sama. Kalau dirasa-rasa, rasanya sungguh aneh dan menggelitik.

Jadi begini, coba pikir, bukankah seorang calon pemimpin daerah benar-benar bisa jadi pemimpin jika dia disukai dan berpengaruh bagi warganya. Seseorang yang berpengaruh, artinya memiliki tempat sendiri dihati. Lhah, kalau dia minta seseorang yang populer untuk membuat dirinya populer, rasanya tidak pantas untuk dipilih.

Pernahkah dia berpikir? Bahwa sebenarnya hal itu membuktikan bahwa posisinya ada dibawah pemimpin lainnya. Tidak sama populernya. Tidak sama dipercayanya.

Lucu sekali. Bukankah menjadi pemimpin artinya dia siap dipercaya, siap bertindak, siap membuktikan bahwa dia bisa. Bukan numpang tenar kemudian mengatakan “Gue sama lho seperti pemimpin yang satu ini. Jadi pilih gue ya…”

Hehehe, dua saudara yang lahir dari rahim ibu yang sama saja, bisa berbeda sifat dan wataknya. Lha ini hanya dari satu parpol yang sama.

Sungguh lucu pemikiran orang-orang parpol jaman sekarang. Sungguh lucu sekali cerita negeri ini.