Negeri Ini


Negeri ini sudah macam sinetron dan novel. Tunggu saja beberapa episode atau bab, maka akan ada cerita baru, seru, yang fiksi, bikin heboh tapi dibuat-buat.

Saya bukan pengamat, bukan ahli, tapi saya ikut gemes dengan negeri tempat saya tinggal akhir-akhir ini. Bayangkan, mulai dari harga Bbm yang naik dari Rp 6500 menjadi Rp 8500 ketika minyak dunia turun, sehingga membuat semua harga kebutuhan ikut melambung. Tidak lama kemudian, harga Bbm turun menjadi Rp 7600, namun sayangnya tidak diikuti harga kebutuhan pokok. Dan dalam sekejap mata, harga Bbm turun lagi menjadi Rp 6600 dengan alasan harga minyak dunia turun, yang lagi-lagi tidak diikuti turunnya harga kebutuhan pokok. Terus kemudian, buat apa kemarin dinaikkan? Bukannya harga minyak dunia juga turun?

Belum lagi tentang pencalonan Kapolri yang bahkan ketika sudah menjadi tersangka korupsi, dia masih saja mendapat pembelaan ini dan itu. Masih mau dijadikan Kapolri. Ya Rabb, macam sudah tidak ada calon lain saja. Pernahkan berpikir bersama, ketika penegak hukumnya saja sudah menjadi tersangka kasus korupsi, maka mau jadi apa negeri tercinta ini? Mau menjadi negeri paling korup? Mau melestarikan budaya korup? Mau melahirkan penerus yang korup?

Ditambah penangkapan Wakil Ketua kapolri yang terkesan balas dendam. Apa akan ada Cicak Vs Buaya lagi? Ya Allah, semoga negeri ini baik-baik saja.

Saya cinta sama Indonesia. Taukah? Ketika Singapore membuat rumah kaca besar berisi ratusan tanaman, dibuat seakan-akan kita berada dalam hutan, asri sekali, air terjun buatannya amat cantik, dan ketika kita ingin masuk kesana, kita harus mengeluarkan uang sekitar SGD 400 kalo tidak salah.

Sementara di Indonesia, kalian mau air terjun yang secantik apa, disini tersedia tanpa harus mengeluarkan uang sebanyak SGD 400, diciptakan alami oleh Sang Maha Pencipta. Kita mau melihat hijaunya bukit rerumputan, tidak perlu dibuat-buat, di Bromo ada Padang Savana lengkap dengan Bukit Teletubies nya, alami, saya bahkan tertegun ketika memandangi Bukit itu. Cantik sekali. Itu bukan buatan, asli dari tangan Sang Maha Agung. Beruntung sekali kita tinggal di Indonesia. Beruntung.

Yang membuat kita tidak beruntung tinggal di Indonesia adalah mereka selalu sibuk mengurusi perut dengan mengatasnamakan rakyat, tapi justru membawa lari uang rakyat. Yang membuat Indonesia jadi tidak cantik adalah mereka yang mengatakan cinta pada rakyat, tapi menipu rakyat dengan janji-janji semu. Sudah macam anak muda yang melancarkan serangan PHP.

Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apalah saya ini, hanya rakyat jelata yang suaranya (mungkin) hanya berlaku saat pemilu. Itu pun akan dihitung jika tidak ada kecurangan. Kalo ada kecurangan, lewat sudah semuanya. Nyoblos hanya formalitas.

Saya benci keadaan saat ini di negeri ini. Saya hanya berharap Indonesia menjadi baik, lebih baik, terus membaik. Bukan hanya berisi politik suram, yang penuh dengan orang bermuka setan yang pura-pura jadi malaikat.

Posted from WordPress for Android

Mengkritik Jokowi???


Baiklah, jadi malam ini saya ingin menyikapi halah bahasanya hehe, ingin komentar tentang fanpage seorang penulis yang isinya banyak sekali tentang Pemerintahan Jokowi saat ini.

Saya sih ndak tau politik, hanya beberapa hari ini saya sedikit perhatian dengan fanpage penulis yang lumayan lama saya like ini.

Mengkritik tentu boleh, bahkan terkadang kritik itu sangat dibutuhkan, tapi kalo terus-terusan dan tanpa saran, kok jadi lebih mirip menjelek-jelekkan orang lain ya…

maaf ini pendapat saya ya…

Mungkin ada yang salah dengan pemerintahan Jokowi karena dengan cepat sekali dia melambungkan harga BBM yang notabene adalah kebutuhan pokok rakyat. Bagaimanalah tidak kebutuhan pokok, jika harga BBM naik, otomatis semua harga naik, malah naiknya lebih gila dari harga BBM.

Ditambah dengan pengadaan Kartu Sakti yang belum jelas keberhasilannya. Sesakti apa kira-kira khasiatnya? BPJS saja belum merata, ini apa lagi kartu-kartuan ini.

Belum lagi menyoal kabinet yang dijanjikan ramping, tapi ternyata tidak. Dan tentang Pemerintahan Jokowi yang lebih merapat pada parpol ketimbang rakyat.

Ya… mungkin ada yang salah. Mungkin…

Tapi tunggu deh.. Mungkin juga ada yang salah dengan fanpage penulis yang mengkritik Jokowi. Seperti yang saya katakan tadi, mengkritik itu boleh bahkan kadang perlu, tapi kalo terus-terusan tanpa saran kok lebih seperti menjelekkan meski itu benar adanya. Kritik-kritik dalam fanpage penulis tadi seakan sangat memojokkan Jokowi. Saya membenarkan si penulis itu mengkritik, tapi tentu ada caranya.

Saya jadi ingat ketika si fanpage penulis yang satu ini mengkritik habis-habisan penulis lain yang bernama Darwis Tereliye, lantaran Tereliye selalu memblock akun facebook yang suka komen Out Of Topic atau ditengarai akan menimbulkan konflik. Isi fanpage penulis itu semua tentang Tereliye. Yang mengatakan Tereliye sombong lah, inilah, itulah. Saat itu saya pikir berbicara langsung atau via email kan lebih baik, toh mereka sesama penulis. Setidaknya lebih sopan. Bukan terus diumbar semua kejelakannya.

Sama seperti saat ini. Hanya beda pada objek. Dulu penulis Tereliye, sekarang presiden Jokowi. Sekali lagi, tidak salah mengkritik, tapi ada caranya.

Rasanya menulis kritikan lewat koran itu lebih beretika, sopan, terhormat, dan elegan, ketimbang mengkritik via facebook. Nggak tau lagi, mungkin si penulis ini punya twitter, path, atau lainnya.

Saya bukan pendukung Jokowi, tapi saya pernah salut sama Jokowi. Saya juga bukan pecinta si penulis yang mengkritik Jokowi ini, tapi saya senang dengan cara penulis ini menulis.

Dulu ketika Jokowi meninggalkan Solo dan menjadi Gubernur Jakarta, saya dukung habis-habisan. Saya yang bukan orang Jakarta, jadi ikut bangga dan menaruh harapan besar pada seorang Jokowi untuk kemajuan Jakarta. Karena Solo bisa jadi lebih baik karena Jokowi. Tapi setelah dia dengan gampangnya meninggalkan amanah Gubernur dan memilih mencalonkan diri menjadi presiden, runtuh sudah rasa simpati saya pada Jokowi. Bagi saya tidak ada orang yang pantas disebut pemimpin, jika dia mudah sekali meletakkan amanah.

Pun sama dengan si penulis yang suka mengkritik Jokowi tadi. Saya dulu add dia sebagai friend, plus like fanpagenya karena saya suka pada tulisannya. Isi statusnya bermanfaat dan menginspirasi untuk menjadi penulis.

Tapi kenapa sekarang keduanya jadi begini? Ah, entahlah…

Saya hanya ingin mengatakan, kritikan dalam fanpage si penulis ini pasti bermanfaat, jika disalurkan dengan cara yang tepat. Kalau hanya menjadi tempat debat semata oleh para komentator lalu apa manfaatnya? Emang Jokowi baca? Ya semoga sih. Tapi kalo ditulis melalui koran, kemungkinan besar Jokowi baca, paling nggak staffnya. Jadi teman-teman yang merasa tau fanpage nya si penulis yang saya maksud, jangan ikut terbawa emosi ya… biarkan dia mengkritik, itu hak dia. Kita adem aja, berdoa terus supaya Indonesia suatu saat punya pemimpin yang adil.

Dan tentang Jokowi, ya pemerintahannya bisa dibilang baru menghitung hari, meski nggak ada gebrakan sama sekali, tapi malah membuat gebrukan dengan harga BBM yang mengudara keangkasa. Tapi tunggulah dulu, negeri ini terlanjut morat marit, tentu butuh waktu cukup lama memperbaikinya. Meski saya bukan pendukung Jokowi, bagaimanapun sekarang Jokowi presiden, semoga Indonesia berjaya. Aamiin.

Sekali lagi ini pendapat saya ya..
Mohon maaf jika ada yang keberatan.

Posted from WordPress for Android