Seperti Pagi


Seperti pagi yang baru..
Mungkin kemarin ada harap yang tertinggal, semoga hari ini semua harap menemukan jawabnya…

Seperti pagi yang menawarkan kesejukan…
Katanya hari baru adalah harapan baru, maka semoga selalu ada harap ditiap terbitnya mentari yang sekaligus menjanjikan kehangatan…

Seperti pagi mengantarkan embun yang menggantung dipucuk-pucuk daun..
Ada doa-doa yang terlantun, berpilin indah ke atas..
Dan semoga Langit berkata iya..

Seperti pagi yang memulai hari dengan hangat mentari..
Semoga hari ini benar-benar ada jawab yang menyambut hangat doa-doa yang tersimpan…

Selamat pagi…

Posted from WordPress for Android

Romantisme Penanjakan Bromo


Semakin malam beranjak naik, Dingin Bromo semakin memeluk kami erat. Tidur hanya sebuah syarat yang harus dilalui sembari menunggu pagi. Karena nyatanya tidak ada yang benar-benar terlelap bersama mimpi. Hanya memejamkan mata yang lelah, itu saja. Selebihnya, kami masih sadar sepenuhnya.

Pukul 3 dini hari, dengan mengenakan pakaian lengkap mulai dari ujung kepala hingga kaki, kami memulai perjalanan menyenangkan sesungguhnya, seperti yang saya tulis pada posting sebelumnya.  Untuk mencapai puncak Bromo, kami harus menyewa Jeep yang berisi maksimal 6 orang penumpang, dengan harga Rp 875.000,- untuk 4 lokasi wisata di Bromo.

Kami kembali disambut dengan jalan tikungan terjal berliku yang menakutkan. Namun lagi-lagi saya mengatakan, jalan terjal berliku itu hanyalah syarat yang harus dilalui untuk mencapai puncak Bromo dengan janji cantiknya matahari terbit. Sempat terbersit pemikiran, perjanalan ke Bromo ini seperti jalan kehidupan saja, yang harus dilalui dengan penuh usaha keras untuk sampai dipuncaknya. Maka, usaha keras hanyalah syarat yang harus dilalui untuk mencapai kesuksesan dengan janji kehidupan yang lebih baik.

Bukan berarti berangkat lebih awal membuat puncak Bromo masih sepi. Sesampainya di sana, sudah banyak Jeep yang memenuhi jalur penanjakkan. Orang-orang, meski masih sepagi itu, sudah riuh tertawa, berteriak, dan lainnya. Sepeda motor saling berebut untuk naik ke atas terlebih dahulu. Sungguh pemandangan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya di tempat tinggal saya. Senang melihatnya.

Rintik gerimis pun turun tanpa undangan, saya dan lima kawan saya melangkah mantab mulai menapaki jalur penanjakkan. Dataran tinggi membuat saya harus mengeluarkan tenaga lebih untuk berjalan, namun semua itu tidak terasa karena di sana, semua orang melangkah dengan penuh sukacita, tawa, bahagia.

Sebenarnya gerimis yang menetes di awal tadi sudah menjadi firasat buruk. Karena bisa jadi matahari akan malu-malu untuk muncul kepermukaan, dan lebih memilih tenggelam dibalik awan mendung yang menggantung. Dan benar adanya. Matahari benar-benar malu memperlihatkan cahaya cantiknya dan enggan memberikan hangat sinarnya pagi itu.

IMG_1814

Kecewa? Mungkin. Namun saya tidak dibuat kecewa hanya karena matahari gagal tampil pagi itu. Show must goes on. Tidak ada matahari, lampu pun jadi. Dan saya pun berfoto dibalik gelapnya subuh di depan sebuah gedung tinggi dengan lampu kuning. Alhasil, saya pun mendapatkan foto siluet diri saya dengan sorot cahaya lampu dihadapan matahari yang malu-malu.

Namun semua itu terbayar ketika saya memutuskan untuk turun, mencari pesona Bromo yang saya yakin tidak hanya dimiliki oleh matahari yang lebih memilih bersembunyi dibalik awan itu. Bromo, setiap jengkalnya ada pesona, setiap sudutnya adalah jurang keindahan dari Sang Maha Pencipta. Kabut putih yang turun pelan-pelan disana, membuat suasana pagi menjadi amat romantis dan dramatis.

_MG_1899

Ada rindu di Bromo, ada seseorang yang setahun lalu juga menginjakkan kakinya di Bromo. Dan kini saya pun merasakan dingin yang sama dengan dia waktu itu.

_MG_1865

Sejenak saya melihat sekeliling yang kini mulai diterangi cahaya pagi. Terdiam. Dan sungguh biarkan saya mengucapkan syukur kepada Sang Maha Kuasa atas segala sesuatunya di alam semesta. Nafas saya tertahan, terimakasih ya Allah sudah menciptakan alam semesta seindah ini. Alam yang masih bisa menenangkan ketika melihatnya, langit yang terasa begitu lapang ketika mememandangnya, dan tentram ketika kita memejamkan mata.

IMG_1912

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? Penanjakan Bromo dan segenap yang melingkupi keindahannya adalah sedikit dari sekian bukti bahwa Allah adalah Maha Baik.

Selamat Pagi, Jakarta!


Well, Selamat pagi narablog sekalian? Gimana kabar hari ini?

Pagi ini saya masih di Jakarta. Ceilleeee Annisa, mentang-mentang di Jakarta posting terus euy, hehe

Nggak tau sih ya, napsu menulis saya di Jakarta ini tiba-tiba muncul.

Baiklah, pagi ini saya mau menceritakan Jakarta pagi ini. Nggak seperti judulnya sih, yang seakan-akan saya pagi-pagi buta udah jalan-jalan puter Jakarta, jam 6.00 saya masih hotel. Sebenarnya pingin jalan-jalan keluar hotel, cari makan apa gitu. Tapi akhirnya saya hanya jalan-jalan di area hotel.

Mengapa begitu?
Yeps, karena di acara Kotra ini saya ketemu dan barengannya sama 1 dokter cantik yang cinta kesehatan dan kebugaran, bahkan saya dapet tips diet sehat pagi-pagi, beruntunglah saya. jadi pagi-pagi dia udah ngajakin ke spot sport yang disediakan hotel.

Macem-macem sih sport facility yang disediakan hotel. Mulai dari kolam renang, rute jogging, tempat fit nes, lapangan tenis, sampe instructur senam.

Dannn mana kah yang saya pilih? Saya mengikuti ibu dokter, rute jogging. Eits, milih rute jogging bukan berarti saya bakal lari-lari kecil. Saya lebih ke jalan cepat.

image

Photo By. Annisa Reswara

IMG_20130626_065412

Photo By. Annisa Reswara

Rute joggingnya lumayang panjang, dan saya cuma selamat 2 putaran. Hehe, selanjutnya saya duduk pinggir kolam renang sambil ngeliatin perenang-perenang yang kebanyakan bule.

Sementara ibu dokter tetap melakukan jalan cepatnya. Salut bu.. Padahal ibu dokter itu usianya udah 43 tahun, dan saya 24 tahun.

Okelah, yang saya dapat pagi ini. Mari hidup sehat, dan yukk diet.

Btw, selamat pagi dan selamat beraktivitas.

“Selamat pagi, Jakarta!”

Photo By. Annisa Reswara

Photo By. Annisa Reswara