Berpihak atau Netral?


Narablog sekalian mungkin pernah mengalami ini. Di kampus, organisasi, atau kantor. Ini tentang pilihan. Berpihak atau netral.

Ketika seorang temanmu di kantor atau organisasi tiba-tiba bercerita tentang teman sekantor lain yang menurut dia menyebalkan, maka apa yang akan kamu lakukan? Ikutan merasa sebal atau biasa aja?

Sebagian besar orang, terutama cewek, pasti akan ikutan sebel, dan itu dikarenakan unsur kedekatan. Saya juga biasanya begitu.

Tapi narablog, sikap ikut-ikutan sebal itu adalah sikap yang buruk. Ada baiknya narablog bersikap netral saja. Karena sebenarnya kita nih yang jadi tempat curhat, nggak tau tentang kebenaran latar belakang cerita menyebalkan dari temen kita tadi. Bisa jadi temen kita sebel gara-gara ulahnya sendiri atau cuma denger-denger saja.

Sebagai teman yang dianggap baik karena dianugrahi sebagai tempat curhat, menjadi pendengar yang baik saja merupakan tindakan paling benar. No comment, just listen to your friend, dan jika memang harus komentar, berkomentar yang netral saja. Seperti, ow, hmm, ya sudah orang kan beda-beda. That’s all. Jangan malah kasih komentar yang ngompor-ngompori dan bikin makin panas. Karena itu bisa berakibat fatal pada banyak hubungan sosial di TKP.

Jadi pilih netral atau berpihak? Netral sajalah. Meskipun yang curhat adalah temen kita paling dekat sekali, ya bersikap biasa aja. Biar cerita menyebalkan itu cukup jadi urusan mereka, dan kita cukup jadi pendengar yang budiman.

Demikian.