Surga Yang Tak Dirindukan (Review)


Iya ini judul film yang diambil dari buku karangan penulis wanita kesukaan saya, Asma Nadia. Meski buku Asma Nadia dilemari tidak sebanyak buku Darwis Tere Liye, tapi saya setia dengan tulisan-tulisannya di media sosial. Seperti buku Sakinah Bersamamu yang pernah saya baca, dan seperti film Assalamualaikum Beijing yang sudah saya tonton, awal tahu trailer film Surga Yang Tak Dirindukan saya yakin film ini bagus. Apalagi ketika mendengar soundtrack nya, saya merinding. Meski sempat ragu ketika lihat poster filmnya. At least, akhirnya saya nonton.

Surga Yang Tak Dirindukan Movie Poster

Film ini menceritakan tentang, seperti biasa, percintaan, tapi lebih tepatnya poligami.

Diawali dengan Prasetya yang diperankan oleh Fedy Nuril bertemu dengan Citra Arini (panggil saja Arini) yang diperankan oleh Laudya Cintya Bella yang makin cantik karena sekarang berjilbab. Kedua insan ini bertemu di salah satu sekolah panti asuhan di Yogyakarta. Arini mengajar di sana, dia mendongeng. Pertemuan pertama mereka bukan pertemuan yang disengaja. Yaaa, itulah jodoh, bisa bertemu kapan saja, dimana saja, sudah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa. Jadi, jangan risau, ya.. hehe.

Okay, kembali ke film.

Tidak terlalu lama berpacaran, keduanya kemudian menikah. Seperti biasanya, pernikahan dua insane yang saling mencintai tentu penuh dengan rona kebahagiaan. Terlebih mereka dikarunia seorang anak perempuan, dan karir prasetya terus beranjak cemerlang.

Prasetya kemudia memiliki sebuah perusahaan kontraktor bersama kedua orang temannya, yang salah satunya diperankan oleh Kemal Pahlevi, ya salah satu comis di Stand Up Comedy Indonesia Season 2.

Rumah tangga mereka berjalan baik-baik saja, penuh bahagia, canda tawa, rasa saling percaya, cinta, dan setia. Namun semua itu berakhir ketika Prasetya bertemu dengan Meyrose yang diperankan oleh Raline Shah.

Sebenarnya Prasetya dan Meyrose tidak sengaja bertemu. Ketika Prasetya sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya. Prasetya menemukan mobil yang mengalami kecelakaan masuk jurang, meski jurangnya tidak terlalu dalam. Ya sebenarnya disini agak nggak masuk akal, sih. Mana ada mobil yang berhenti ketika ada mobil lain masuk jurang. Dan dengan susah payah dia turun ke bawah jurang, kemudian baru berteriak minta tolong setelah melihat korbannya. Tapi ya sudahlah, mari ikuti jalan cerita sutradara.

Setelah membawa Meyrose yang menjadi korban kecelakaan tersebut ke rumah sakit, disinilah drama prahara rumah tangga korban poligami dimulai. Prasetya baru mengetahui bahwa Meyrose ternyata hamil, yang jelas bukan hamil dengan Prasetya karena mereka baru saja bertemu. Dan saat itu harus segera dioperasi agar bayi tetap selamat. Tidak hanya tahu bahwa Meyrose tengah hamil, Prasetya juga tahu masalah yang sedang dialami Meyrose.

Meyrose adalah anak dari ayah orang asing dan ibunya orang Yogyakarta. Ketika umur 12 tahun, ayahnya pergi entah kemana. Sedangkan ibunya frustasi dan pilih bergonta-ganti pasangan hingga akhirnya bunuh diri. Nasib Meyrose sendiri tragis, dia hamil dan ditinggalkan oleh suaminya. Karena itu dia berniat bunuh diri bersama bayinya. Namun Allah berkata lain, Prasetya menyelematkan dia.

Meyrose melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Akbar Muhammad oleh Prasetya. Namun bukannya bahagia, Meyrose malah mencoba bunuh diri. Dia sudah muak dengan kehidupan dan ingin meninggalkannya begitu saja, termasuk anaknya yang baru saja lahir.

Tapi hal tersebut diketahui Prasetya, sontak saja Prasetya segera pergi ke atas gedung rumah sakit, karena menurut prediksinya Meyrose pasti akan bunuh diri melalui jalan lompat dari gedung. Prasetya ini tergolong manusia berhati mulia dan ringan tangannya dengan jiwa social yang tinggi. Dia tidak tega anak Meyrose menjadi seperti dirinya yang hidup sebatangkara di panti asuhan. Karena itu dia dengan susah payah membujuk Meyrose agar tidak bunuh diri. Tapi sayangnya dia salah ambil keputusan. Dia menyelamatkan Meyrose dengan jalan menikahnya malam itu juga.

Jeeeengggg….Jeeeeenggggg

Ya sudah, janji sudah terucap. Mau tidak mau malam itu juga Prasetya menikahi Meyrose dirumah sakit, dan membubuhkan namanya dibelakang nama Akbar Muhammad.

Kacau sudah semua. Prasetya seorang lelaki penuh cinta nan setia, ternyata harus membagi cintanya karena jiwa socialnya yang kelewat tinggi. Hatinya terlalu mulia. Tapi sayangnya dia tidak memikirkan jiwa istrinya yang sedang setia menanti suami tercinta di rumah.

Sebenarnya nggak salah sih si Prasetya, tapi sama seperti yang dikatakan Arini dalam film, apa menolong harus dengan cara menikahi.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Pernikahannya dengan Meyrose akhirnya diketahui Arini. Tentu Arini mencak-mencak. Istri mana yang tidak terkoyak hatinya ketika mengetahui suaminya menikah lagi. Iya saya rasa memang tidak ada. Wanita mana yang mau berbagi cinta dengan orang lain. Berbagi hati itu meski dilakukan dengan hati-hati akan tetap menyakiti.

Mengikhlaskan suami menikah lagi memang pintu surga bagi seorang wanita. Namun sayangnya, bukan surga itu yang dirindukan Arini. Dia merindukan surga dengan cara yang lebih indah bersama suaminya, bukan dengan jalan rela dipoligami.

Kira-kira bagaimana kelanjutan ceritanya. Narablog bisa bergegas ke bioskop untuk nonton, atau ke toko buku untuk membeli buku karangan Asma Nadia yang satu ini.

Menurut saya mengenai film ini adalah ya seperti biasa Asma Nadia selalu menekankan pada pembacanya bahwa Allah selalu berada dihati hamba-hambanya yang mau bersabar dan ikhlas. Tidak ada jalan buntu selama Allah berada dalam hati kita. Yang perlu diingat adalah ketika seorang hamba menemui sebuah kesusahan, mintalah pertolongan selalu pada Sang Penguasa pagi dan malam. Mohon perlindungan pada Sang Pemiliki senja dan fajar.

Setiap manusia harus selalu sabar dan ikhlas dalam menjalani semua Allah. Semoga Allah memberikan jalan yang tak ternilai harganya ketika seorang hamba bisa melaluinya.

But, overall, yang jelas saya pasti tidak akan pernah sanggup menjadi Arini yang masih mau menerima kembali suaminya, meski pada akhirnya Meyrose lebih pilih pergi dari kehidupan mereka.

Enjoy, Ini trailer dari film Surga Yang Tak Dirindukan

Sepatu Dahlan – Resapi Arti Keluarga Untuk Kita


Film ini menguras air mata. Tentu tetap tentang cinta, namun bukan cinta antara dua hati manusia, tapi tentang cinta yang seluas-luasnya. Cinta Tuhan kepada manusia, cinta manusia terhadap sesamanya, cinta orangtua pada anaknya, pokoknya film ini penuh dengan cinta.

Sebuah cerita yang diangkat dari sebuah novel yang diambil dari kisah nyata seorang penguasa media di Jawa Timur. Dari kisah nyata sepasang sepatu pertama milik seorang Menteri BUMN 2009 – 2014, yeps narablog benar, ini kisah tentang sepatu pertama Dahlan Iskan yang dirangkum apik, menarik, cantik, dan eksotik

Ini film yang berjudul  ‘Sepatu Dahlan’

Film ini mengisahkan tentang betapa sangat sederhananya kehidupan Dahlan Iskan dulu. Tidak perlu muluk-muluk punya mobil, untuk membeli sepasang sepatu baru pun dia tidak sanggup. Ahh, untuk makan nasi saja, keluarga Pak Iskan ini tidak sering, jarang sekali.

Diceritakan Dahlan Iskan yang hidup bersama kedua orangtuanya dan dengan adiknya yang biasa dipanggil Din tinggal disebuah rumah kecil beralaskan tanah dengan dua kamar tidur. Keluarga ini memelihara kambing milik tetangga untuk menyambung hidup mereka. Tidak hanya itu, Pak Iskan, ayah Dahlan menjual apa saja di pasar untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Jika beruntung, hari itu mereka bisa makan nasi dan lauk ikan asin, jika tidak, ubi adalah makanan terlezat hari itu.

Kedua orangtua Dahlan menjanjikan sepasang sepatu jika Dahlan lulus SD. Namun sayangnya, uang yang dimiliki keluarga itu belum cukup untuk membeli sepasang sepatu untuk Dahlan.

Beruntung Dahlan adalah anak lelaki yang baik dan pengertian. Dahlan pun dengan sangat dewasa menerima nasib bahwa dia belum bisa memiliki sepasang sepatu baru. Pergi ke sekolah pun tetap dia lakukan dengan tulus, meski harus dengan telanjang kaki. Jarak sekolah Dahlan saat itu tidak hanya sepelemparan batu, tapi jauh. Bayangkan ya, dengan kondisi yang panas menyengat, kaki telanjang, dan jalanan terjal, seorang Dahlan Iskan harus berjalan jauh untuk menuntut ilmu. Dan semua itu dia lakukan tanpa mengeluh.

Dalam film tersebut diceritakan ibu Dahlan meninggal ketika dia baru saja duduk di bangku SMP. Ah, lengkap sudah penderitaannya. Ingin sepatu tapi belum keturutan, keadaan miskin tidak karuan, ibu nya pun harus meninggal. Apalah ya? Bahkan saya membayangkannya saja tidak berani, jika itu terjadi pada diri saya.

Tapi sekali lagi, disitulah, Allah memperlihatkan betapa adilnya Dia.

Dahlan Iskan yang dulu semiskin itu, untuk membeli sepatu, bahkan untuk makan nasi tiap hari saja seperti mimpi, dan sekarang, siapa yang tidak mengenal Dahlan Iskan, seorang yang jujur, kaya, sederhana, baik, pokoknya orang paling amazing, bahkan salah seorang teman saya mengatakan Dahlan Iskan adalah orang paling waras di Indonesia.

Hehe, iya itulah rahasia Allah. Kejutan yang diberikan Allah jika seseorang itu mau bersabar. Jadi, sekarang untuk narablog sekalian yang sedang dalam kesusahan, tenang, bersabar, berusaha, dan terus meminta pada Allah. Percaya deh Allah itu adil, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Seperti kata Dahlan dalam filmnya, Sugih Ana Ning Iman [Red. Kaya dan beriman]. Percaya sama Allah dalam setiap keadaan ya, Narablog…

Nahhh… itu sedikit dari saya.

Film ini, tentu sangat recomended untuk para penyuka film. Bagi ayah dan bunda, saya berani jamin, film ini akan memiliki arti sendiri jika anda berdua nonton bareng dengan anak. Setelah nonton film ini, pasti akan ada chemistri berbeda yang keluar dan mengikat dengan rasa sayang satu sama lain. Buat yang belum menikah, wajib tonton film ini juga. Dan resapi arti keluarga buat kalian. Bagaimana ayah dan ibu kita itu selalu berusaha melalukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak peduli seberapa lelah mereka, yang penting anak.

Penasaran bagaimana filmya? Silahkan nonton di bioskop-bisokop kesayangan anda. Ini saya kasih trealer film ‘Sepatu Dahlan’.

Photo By. Link