Diary – Malam Minggu


Malam memiliki kesibukannya..
Lampu-lampu kota satu persatu menjalankan perannya
Menerangi jalanan yang mulai tak terlihat
Temaramnya menghangatkan siapapun yang melintas di bawahnya..

Bermacam wajah menjadi satu
Mencuri perhatian setiap mata yang melihat
Mengurai rasa dalam tiap hati yang melirik..

Ini malam minggu..
Harusnya semua senyum tersungging manis ditiap bibir
Harusnya semua hingar bingar cinta menari diantara syahdu nyanyian hati
Entah siapa yang memulai,
Malam ini selalu dinobatkan sebagai malam suka cita bagi siapa saja

Padahal,
Mungkin masih ada hati yang tersakiti malam ini
Mungkin masih ada cinta yang menunggu tanpa henti

Namun, apapun itu..
Malam ini tentu tetap syahdu dengan segala situasinya

Bagi siapa?

Bagi siapa saja tentunya.
Tergantung bagaimana hati ini merasa
Tergantung bagaimana kita mensyukurinya..

Selamat Malam Minggu…

Jangan lupa shalat ya… 🙂

 

Sabtu, 21 Juni 2014

Biarlah


Malam ini tiba-tiba hujan turun deras sekali. Berirama. Membuatku kuyub. Membuat sepatu kerjaku basah tak terhindari, pakai apalah aku besok ini, tak ada sepatu lagi. Tapi biarlah.

Harusnya tadi aku cepat merapat. Berteduh bersama pengendara motor lainnya di pinggir-pinggir jalan. Di bawah atap toko-toko yang sudah tutup. Tapi tak kulakukan. Biarlah aku kuyub karena hujan. Biarlah aku menggigil sebentar. Sudah lama aku tak merasa kedinginan. Mati rasa.

Tapi hujan malam ini berbeda, pun angin yang mengiringinya. Aku merindumu. Teringat ketika kau memacu motor cepat-cepat bersamaku, takut-takut basah kuyub karena hujan. Tapi kita tertawa, menikmatinya. Aku teringat ketika berteduh menggigil bersamamu, tapi kita tetap bercanda. Biarlah, biarlah hujan terus menderas agar kita tetap bersama. Bercanda. Aku teringat ketika cemas sekali menunggu kedatanganmu. Takut sekali terjadi apa-apa denganmu. Di bawah atap sempit, berkali-kali melihat ke ujung jalan. Berkali-kali wajah ini basah terkena tampias hujan. Biarlah wajah dan bajuku basah, asal aku adalah orang pertama yang tau kamu baik-baik saja.

Namun sungguh, hujan dan angin malam ini berbeda. Aku tersenyum mengingatmu. Seolah tidak pernah ada rasa sakit itu, seolah hilang luka tercabik karena kau tiba-tiba menjauhiku.

Sejak malam ini. Ketika rintik hujan membasuh wajah, ketika angin menerpa dingin. Biarlah, biarlah semua kulepas sebagai kenangan. Biarlah, biarlah semuanya menjadi masa lalu yang tertinggal dibelakang. Aku akan berdamai.

Biarlah, biarlah aku menikmati sepotong hatiku yang tersisa kini, menguatkan diri. Mencoba berdamai menyambut pagi. Biarlah, biarlah kamu dan masa lalu itu pergi membawa separuh hatiku yang lain.

Biarlah hujan malam ini untuk terakhir kalinya mengisahkan cerita lalu tentang kamu dan aku. Biarlah hujan malam ini menghapus semua gerakan resah, helaan napas tertahan, dan mimpi-mimpi patah hati.

Selamanya.

Malam-malam menyesakkan dengan seluruh gerakan resah.

Malam-malam menyesakkan dengan seluruh gerakan resah.

*Mas jamil, semoga kamu selalu bahagia.

Rindu itu Kamu


(1)
Hai..
Apa kabar kamu di sana?
Sedang apa? Tidur? Sibuk? Atau kita sedang menikmati bulan sabit yang sama?

(2)
Akhir-akhir ini entah kenapa aku selalu memikirkan kamu. Membayangkan kamu ada di depanku. Mengenang semua hal indah antara aku dan kamu.
hingga…
Merobek memori pahit di akhir perpisahan kamu dan aku.

(3)
Beberapa hari ini hujan selalu turun. Aku jadi ingat hujan pertama bersamamu. Kita berteduh berdua, kedinginan, tapi kamu tau? Ditengah hujan jika itu denganmu adalah hal yang paling menyenangkan untukku.

(4)
Hai…
Apa kabar kamu di sana? Pernahkah kamu sekali saja teringat tentang aku?  Tentang hari-hari yang terlalui dulu? Tentang hujan bersamaku? Tentang edelweis yang kau bawakan untukku? Tidakkah kamu rindu padaku? Aku rindu kamu. Sangat rindu, dan mengingatmu sudah menjadi ritual pengantar tidurku.

(5)
Kau tau?
Aku selalu berangan-angan, andai aku bisa menyampaikan rindu ini padamu. Tapi sayangnya itu hanya anganku.
Maka akhirnya, sebelum tidur, aku selalu memejamkan mata, menitipkan rindu ini pada sang Maha Pemilik Rindu. Berharap, semoga rindu ini tersampaikan padamu. Entah bagaimana, tapi hanya itu yang bisa kulakukan. Dan aku percaya rinduku tersampaikan, hanya saja tak kau dengar.

(6)
Hai…
Apa kabar kamu di sana?
Semoga langit berkenan mempertemukan kita lagi.
Disuatu tempat, suatu saat.

 

Malam-malam menyesakkan dengan seluruh gerakan resah.

Malam-malam menyesakkan dengan seluruh gerakan resah.