Ini Kisah Saya [Bagian 1] – Patah Hati Cerita Dari Hati


“Hati ini seperti tidak pernah lelah mencari.  Dulu. Setelah lelah, kini hanya berani menanti. Menanti dan mencari. Sebuah jawaban atas sebuah keresahan yang belum ada jawabnya.”

Jika narablog yang sering membaca posting saya dulu, sekitar hampir satu tahun yang lalu, kebanyakan tulisan-tulisan yang saya posting adalah postingan galau. Iya, setahun lalu ketika saya patah hati, rasanya langit selalu mendung, udara selalu dingin membuat saya menggigil, dan hujan rasanya turun teramat deras, membuat hati lebih sendu.

Setahun ini, saya selalu berharap. Kisah saya yang setahun lalu adalah kisah terakhir yang terluka. Dan kemudian hari, tidak akan ada luka-luka lain yang menyusul, berlari, kemudian dengan khitmat menari-nari di depan saya. Semoga. Amin.

Ini adalah kisah saya ketika jatuh cinta sekaligus patah hati. Ada tiga kisah. Dan ketiganya sama-sama jatuh cinta dan patah hati. Semoga cukup tiga ini saja, dan saya tidak perlu patah hati lagi, cukup jatuh cinta saja. Percaya atau tidak, ketiga orang yang hadir dalam hati saya ini, semuanya lahir pada tanggal yang sama, 16.

Ini kisah saya yang pertama.

Kisah ini terjadi ketika saya masih kuliah, kalau nggak salah ketika saya semester 6. Saya ingat sekali, saat itu saya masih magang menjadi wartawan di salah satu surat kabar di Surabaya. Dan saat itulah saya serius jatuh cinta untuk pertama kali. Pria ini lahir pada tanggal 16 Juni. Saya kuliah dijurusan Ilmu Komunikasi di UPN, dan dia kuliah dijurusan Akuntansi di universitas yang sama.

Saya tidak pernah percaya pada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, karena memang saya jatuh cinta pada dia tidak pada pandangan pertama. Saya merasakan cinta itu setelah tiga tahun saya kenal dengan dia. Laki-laki yang berparas tampan, berbadan six pack, dan berkulit putih. Tapi yang terpenting adalah dia baik hatinya. Baik sekali. Dia adalah orang yang sangat baik, suka membantu temannya, dan nggak tegaan. Pokoknya sosok manusia baik.

Sampai suatu saat, ketika saya sedang ribut dengan seorang teman, saya lebih memilih untuk pergi ke kampus. Menenangkan diri. Karena saya tau, ketika malam datang, kampus lebih sepi, terlebih dibagian UKM.

Disana saya bertemu dengan si 16 Juni. Dia menyapa saya, mendekat, dan bertanya

“Kamu kenapa? Kok disini malam-malam?”

“Nggak pa-pa” jawaban bohong banget. Yang pastinya semua orang tau.

Dan malam itu, dengan sangat baik. Dia menemani saya dikampus sampe saya beranjak pulang. Disana cerita macam-macam, sampe bikin saya ketawa. Dan dia benar-benar nggak mau pulang, kalau saya belum pulang, karena dia nggak mau ninggalin saya sendiri.

Disitulah saya mulai jatuh cinta. Saya merasa seperti menemukan seseorang yang bener-bener baik hatinya. Dan disinilah kesalahan saya dimulai. Saya membiarkan perasaan saya mengalir begitu saja, menyimpan dalam-dalam, jangan sampai ada orang yang tau. Tapi mungkin secara tidak sadar, saya karena sedang dimabuk cinta memperlihatkan rasa cinta saya. Mungkin perhatian. Mungkin lho, karena saya juga nggak nyadar.

Sampai suatu saat, di bawah matahari yang terik. Di tempat yang sama seperti malam itu, dia menanyakan perasaan saya ke dia.

“Emang kamu jatuh cinta sama siapa?”

“Rahasia, donk!”

“Aku?”

Ketika dia mengatakan kata ‘aku’ tadi, saya terdiam. Mau mengiyakan itu takut, mau tidak jujur itu memang dia. Sampai akhirnya saya pilih mengaku. Tapi tidak dengan cara mengatakan “Aku mencintaimu”, tapi hanya berkata “Iya” yang dibarengi dengan anggukan.

Hhhh.. ternyata menceritakan masa lalu itu masih menyakitkan ya? Hehe

Iya, siang itu saya mengatakan iya. Sekian detik dia juga ikut diam. Mungkin speachless, tidak tau harus berkata apa. Sekian menit berlalu dia masih diam. Sampai akhirnya dia mengatakan…

“Maaf, tapi aku nggak begitu.”

Tiba-tiba ada petir menyambar-nyambar dengan ganas siang itu. Langit cerah sumringah, tapi mendung menggantung dihati saya, dan menutupi hampir seluruh bagiannya. Dan hari itu saya kecewa.

Beginilah kalau kita berharap pada manusia, maka hanya kecewa yang didapatkan. Sebenarnya hari itu saya merasa dicurangi. Karena ada seseorang yang tiba-tiba datang menanyakan perasaan saya, menanyakan hati saya yang sedang berbunga, kemudian setelah dia tau bagaimana bentuk hati saya, dia mengambil pisau dan melukainya dengan satu kali sayatan dalam. Dia curang. Karena dia hanya ingin memuaskan keingintahuannya, kemudian melukai saya. Padahal saya kan tidak minta jawaban, dia sendiri yang tanya, kemudian dia jawab sendiri.

Narablog tau rasanya? Sakit. Sangat sakit.

Tapi, itu adalah yang saya katakan pada waktu itu. Empat tahun lalu. Kalau sekarang, saya mengatakan..

Untung saat itu dia menanyakan perihal perasaan saya, dan menyayatnya seketika sehingga saya sadar, tidak ada cinta untuk saya darinya. Jika tidak, mungkin saya akan terus jatuh cinta dalam mimpi semu yang jelas tidak akan menyata. Karena Allah sayang sama saya tentunya.

Toh setelah itu, saya jadi bisa menulis cerita pendek tentang dia. Dua cerita malah.

Jika narablog ada yang memiliki buku saya berjudul “Aquanetta”, pasti akan menemukan dua cerita yang semuanya mengisahkan tentang dia. Judulnya ’16 Juni’ dan ‘Isi Hati’. Maksud saya adalah andai saja saya tidak mengalami kisah patah hati bersama si 16 Juni, mungkin tidak akan terlahir dua cerpen itu. Karena memang benar ternyata bahwa Kesedihan adalah sumber kreativitas terbaik. Asal dikelola dengan baik.

Itu hanyalah masa lalu yang coba saya ceritakan lagi. Jadi diambil hikmahnya saja. Sekarang, mas 16 Juni itu sudah menikah dengan pacarnya. Agustus 2013 lalu sepertinya. Semoga dia selalu bahagia ya.. menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Dan saya bisa segera menyusul dia. Amin.

Dan kalau mau pesen buku saya yang berjudul ‘Aquanetta’ bisa dipesan di nulisbuku.com. Monggo, Cuma Rp 44.000. Eh jadi promosi nih…

Mau tau kisah saya lainya? Silahkan baca di posting ‘Ini Kisah Saya [bagian dua]’ ya….

Kehilangan itu Selalu Menyakitkan


Malam ini, suasana di dalam rumahku biasa saja, tenang dan damai. Mendengar gemiricik air hujan di luar itu sungguh menyenangkan.

Tapi tidak bagi Tohir. Tetangga sebelah rumah yang anaknya baru saja meninggal. Masih kecil, baru kelas 2 SD, tapi Allah sudah memanggil Rizki, itu namanya, kembali.

Mungkin kedengarannya rumah kami sama-sama tenang dan sepi, tapi taukah dear, hati kami yang berbeda. Di sana ada hati yang luka karena ditinggalkan, senyap rasanya, hampa tanpa suara.

Sedari siang Tohir menangis, melihat anaknya dimandikan, melihat anaknya dibungkus kain kafan. Tohir seperti orang gila, keluar masuk rumah, berteriak, tertawa, kemudian menangis lagi.

“Istighfar, pak, istifgfar” kata seorang pelayat.
“Iya saya ikhlas” jawab Tohir dengan tatapan kosong dan masih dalam sesenggukan.

Tapi hati ayah mana yang langsung ikhlas ketika buah hatinya pergi. Tohir kembali berteriak, tertawa, dan menangis. Membuat hati siapapun yang melihatnya ikut menangis. Miris. Ikut merasakan betapa kehilangannya dia.

Malam ini, suasana rumah Tohir memang sepi, tidak ada lagi suara tangis seperti tadi siang. Tapi dear, ketika seseorang berhenti menangis, bukan berarti lukanya hilang atau sedihnya pergi. Justru bagian ini yang menyakitkan, ketika seseorang menangis dalam hati, menahan perih, tanpa airmata yang keluar. Itu lebih berlipat sakitnya.

Mungkin jika kita bisa mengintip hatinya, meraba dindingnya, ada separuh hatinya yang terluka dan hilang, terbawa oleh kasih sayang yang telah pergi.

Apa akan segera pulih kembali? Tidak ada yang tau. Mungkin besok, mungkin lusa, atau mungkin selamanya.

Iya, kehilangan memang selalu menyakitkan. Meski sebelumnya kita tau akan kehilangan, tapi ketika moment kehilangan itu terjadi pasti akan tetap terasa sakit. Bahkan itu berkalilipat sakitnya, karena siapalah yang tidak kepikiran kalau tau sesuatu atau seseorang yang dicintainya akan pergi.

Kau, Aku, dan Satu Mimpi


Hari ini, entah hari keberapa setelah kamu benar-benar pergi menjauh. Tidak puas dengan menjauhi perasaan tapi kamu juga menjauh secara fisik.

Aku tidak pernah tau apa rencana baik dari semua ini. Yang jelas aku sering mendengar cerita tentang skenario langit terbaik. Dan kabar baiknya, aku percaya itu. Aku hanya perlu bersabar menunggu skenario terbaik itu datang.

Kata orang, waktu terasa merangkak tanpa orang yang dikasihi, tanpamu. Aku tidak tau apakah kalimat itu benar. Yang aku tau aku berusaha menikam semua rasa itu jika tiba-tiba hadir. Menelisik. Mengkorek kenangan. Menyakitkan.

Tapi sungguh aku selalu bisq membunuh rasa rindu dan pedih itu. Namun sayangnya, usahaku tidak selamanya berhasil.

Kamu tau, jika malam datang menjemput semua kesendirian. Mungkin kalimat itu benar, bahwa orang-orang sepertiku yang sedang jatuh dan patah hati selalu merasa sepi ditengah keramaian dan ramai ditengah sepi. Dan seperti itulah aku kini. Semakin larut petang, semakin kenangan tentangmu bermunculan. Awalnya hanya seperti potongan-potongan gambar, namun lama-lama seperti ada yang sengaja sekali memutar video berdurasi tak terkira itu. Memuat cerita tentang kamu dan aku. Cerita lalu yang harusnya tersimpan rapi di dalam brangkas bercode tanpa terusik lagi.

Oh ibu….
Seperti inikah rasanya menahan rindu dan luka secara bersamaan. Hati ini terasa berlipat kali terhimpit, beratus kali tertusuk, beribu kali ditikam rindu terbalut luka.

Ibu…
Aku merindu tapi tak mungkin aku menyampaikannya. Entah sejak kapan ada dinding berdiri terlalu kokoh yang menghalangi kami.

Aku tak bisa lagi menggapainya. Dia tak bisa lagi mendengarku meski aku berteriak sekalipun.

Aku lelah menggapai-gapai dinding yang terlalu tinggi. Lelah berteriak dibalik dinding yang terlanjur menebal.

Hingga akhirnya aku lelap sendiri. Berharap menemukanmu di salah satu scene mimpi. Jika kau muncul di sana, mungkin itulah kesempatanku menyampaikan rindu tersimpan ini, mengesampingkan luka menganga perih.

Malam ini, semoga aku kamu bertemu dalam satu mimpi. Tentang aku kamu. Tentang kita.