(Video) Terima Kasih Suamiku


Karena saya nggak bisa membuat selain hal-hal yang berhubungan dengan puisi. Jadi saya persembahkan video buatan saya ini untuk suami. Please, enjoy 🙂

Thanks for watching, Narablog 🙂

Romantisme itu Bernama Senja


Senja, sejak pertama aku melihatmu
Ada rasa aneh yang selalu mengikutiku
Kau sangat sederhana, tapi…
Ada rasa tertinggal di sini, di hati…

Senja, warnamu menjejakkan sendu
Soremu memeluk hangat
Dan hanya sekejab saja, aku bisa jatuh hati padamu

Kalian pasti sudah tau tentang eksotisme peristiwa sore ciptaan Tuhan ini. Peristiwa tenggelamnya matahari di ufuk barat, perlahan ditelan gelapnya malam.

Selalu ada cerita tentang senja. Tentang romantisme, kesedihan, kerinduan, kenangan, dan masih banyak lagi. Setiap orang memiliki versinya sendiri, tinggal pilih ingin cerita yang seperti apa. Bersama senja semuanya lengkap dan hangat.

Sejak beberapa tahun lalu, saya selalu menyukai senja. Saya tidak tau kenapa, namun selalu ada rasa tenang menatapnya dari kejauhan. Pendar kuning kemerahannya, seperti menenggelamkan jiwa-jiwa yang lelah oleh aktivitas seharian, berganti dengan jiwa baru yang siap menghadapi malam. Senja sudah seperti penghangat waktu.

Inilah yang membuat saya bermimpi, selalu menyimpan erat harap dalam hati, semoga suatu saat nanti saya bisa pergi ke tempat yang memiliki pesona senja terbaik, dengan sapuan langit merah tercantik, lengkap dengan kehangatan romantisme sore hari.

Harap saya terjawab. Beberapa hari lalu, seorang teman dengan wajah merona mendatangi saya. Ditangan kanannya, sebuah kotak merah tertenteng manis. Kotak apa itu? Pikir saya. Tapi sudahlah, lupakan kotak itu. Hal terpenting adalah bertemu dengan teman lama.

Ternyata, kotak merah manis tadi adalah hadiah untuk saya. Kalian tau isinya? Indah sekali, berkilau. Saya saja terkejut setelah membuka isi kotak itu. Sebuah gelang mutiara. Wow… pasti harganya mahal. Tanya saya pada dia. Dia menggeleng, dan hanya tersenyum. Senang sekali bisa menjadi temannya, jika setiap kali dia liburan selalu dibawakan oleh-oleh secantik ini.

Teman saya yang satu ini, ternyata baru saja pulang bulan madu dari Pulau dengan sejuta pesona senja terbaiknya. Kalian tau dimana?

Lombok.

Senyum pun terus terkembang dibibirnya, ketika dia menceritakan bagaimana romantisnya Lombok bagi pengantin baru. Senja yang penuh rona merah saga menggantung-gantung setiap sore. Hangatnya selalu merebakkan cinta. Mungkin karena mereka pengantin baru. Tapi, tak apalah. Mungkin senja di Lombok memang untuk mereka yang tengah memadu kasih.

Menurut teman saya, Lombok memiliki pantai yang sangat bersahabat dengan senja yang istimewa. Rona merahnya merayu siapa saja yang melirik, hangatnya memeluk mesra. Romantis sekali. Saya pun ikut tersenyum mendengarkan cerita teman saya. Tiba-tiba terbayang, saya berada disana dengan suaminya saya nanti jika sudah menikah. Menikmati senja berdua, sambil mendengar riuhnya deburan ombak yang berebut menyentuh pasir pantai. Ditemani dengan hembusan angin yang memeluk dingin.

Teman saya terus bercerita tentang liburan bulan madunya. Katanya, pergi ke Lombok sama dengan bertualang menemukan pantai-pantai terbaik untuk menandai pertemuan-pertemuan syahdu dengan senja. Oh Dear, buncah sudah gejolak ini untuk pergi ke Lombok. Tak sabar menikmati pesona senja terbaik milik Sang Maha Kuasa.

Photo Source: Link

Photo Source: Link

Cerita tentang honeymoon ke Lombok belum selesai. Teman saya melanjutkan ceritanya dengan menyebutkan salah satu pantainya, yaitu Gili Trawangan. Baiklah, saya sering mendengar tentang Gili Trawangan, namun belum benar-benar tau seperti apa disana. Menurut teman saya, Gili Trawangan adalah salah satu diantara tempat terbaik pertama untuk menemukan senja. Tempat ini eksotis. Dari sini, siapapun bisa melihat betapa elok Selat Bali dan Gunung Agung. Ditambah lagi warna senja yang berpendar-pendar emas, seperti sedang meninakbobokkan hari. Dan tidak ada jiwa yang tak terlena bersama senja Gili Trawangan. Sempurna.

senja gili nangu

Photo Source: Link

Selanjutnya, honeymoon teman saya dilanjutkan dengan mengunjungi sebuah pulau kecil yang hanya memiliki luas 12,5 hektar. Kalian tau apa nama pualu itu? Yaps, Gili Nangu. Pulau ini pas sekali dengan apa yang saya bayangkan barusan. Menikmati senja berdua bersama suami kelak. Iya tentu, Quality time bersama cinta terbaik, tentu harus ditempat terbaik pula. Ya meski kekasih terbaiknya masih belum ketemu, tapi membayangkannya saja, boleh kan? Gili Nangu sering dijuluki sbagai Pulau Bulan Madu. Kenapa? Karena masih sangat sepi. Menurut cerita teman saya, langit di Pulau ini hampir tidak pernah mendung, dan tentu saya akan bisa menikmati senja dengan sempurna disini. Bersama orang paling sempurna dalam hati saya. Entah siapa..

Photo Source: Link

Photo Source: Link

Belum habis rasa takjub saya dengan ceritanya, dia memamerkan lagi keelokan Pantai Sengigi. Pantai yang satu ini juga cukup populer ditelinga saya, mungkin juga ditelinga kalian. Menurut dia, jika saya berkunjung ketempat ini, saya akan lebih memilih waktu sesorean di pantai untuk menikmati peristiwa matahari yang lebur keperaduan bumi  menjemput malam. Katanya, senja di pantai ini amat cantik, membuat siapa saja merasa nyaman untuk berlama-lama menikmatinya.

Sungguh elok negeri ini. Baru tiga pantai saja, sudah bisa membuat imajinasi saya terbang kemana-mana. Membayangkan pesona senjanya saja, hati ini sudah buncah bahagia, apalagi jika saya kesana. Saya jadi benar-benar ingin pergi ke Lombok. Menikmati hangat senjanya, memandangi langit cantik memerah jingga. Semoga saya punya waktu kesana. Lombok.

Pulau Lombok. Tunggu saya di sana ya… 🙂

Menjadi Blogger Traveler


Saya pernah membayangkan, pasti menyenangkan menjadi seorang blogger traveler. Ketika writting dan traveling bersatu dalam bingkai kata-kata syahdu yang berpadu melukiskan keindahan alam semesta.

Jika saat ini saya sudah [bisa] dikatakan sebagai blogger, maka keinginan saya selanjutnya adalah menjadi seorang blogger traveler. Pasti menyenangkan menjadi mereka. Berbagi pengalaman tentang kisah jalan-jalan, menceritakan betapa elok rumput tetangga diseberang lautan, atau betapa menyedihkan daerah yang jauh dari peradaban, atau asiknya bercengkrama dengan orang-orang asli suatu daerah. Belajar bahasa mereka, belajar kebiasaan mereka. Wihhh.. seneng pasti ya?!

Belum lagi hal-hal seru yang bisa diceritakan, entah sulitnya medan yang harus ditempuh untuk mencapai tempat wisata, kesasar disebuah tempat asing yang sulit sekali ketemu polisi disana, miscommunication karena perbedaan bahasa, atau mungkin senangnya mencicipi makanan khas dan menginap di hotel mewah.

Beberapa, saya pernah berkunjung ke blog-blog milik para traveler. Dan kisah-kisah yang mereka tulis memang berhasil bikin iri. Dan akhirnya saya menjerit dalam hati “Ya Allah, saya kapan ya bisa seperti mereka?!!” Bercerita tentang kuliner yang disantap, atau melukiskan tempat wisata bersejarah dengan tarian kata romantis. Kapan saya seperti mereka? Atau lebih tepatnya, punya cukup uang untuk menjadi seperti mereka. Hehe

Beberapa blogger traveler yang sering mencuri perhatian saya adalah Blog milik Mas Danan Wahyu Sumirat. Di blog ini, tentu ceritanya pasti tentang traveling, tapi yang paling saya suka, pas motret-motret makanannya. Sumpah selalu bikin ngiler. Dan hal itu yang saya pingin, bisa berkeliling nusantara sambil nyicip makanannya dan bercerita kepada dunia bahwa makanan ini enak.

Blogger kedua yang juga mencuri banget perhatian saya adalah Blog The Lost Traveler milik Mas Yofangga Rayson. Eits, saya pernah lho bertemu dengan Mas Yofangga ini ditempat kerja saya. Namun sayangnya, saat itu saya nggak tau kalo Mas Yofangga ini adalah seorang blogger traveler. Jadilah saya nggak sempat tanya-tanya banyak tentang dia kecuali masalah kerjaan. Nah, apa yang membuat blog The Lost Traveler ini menarik? Diksinya yang romantis puitis, otomatis bikin pembacanya jatuh cinta setengah hidup. Cara bercerita pelan dan urut. Belum lagi photo-photo yang disajikan. Entah diedit atau ndak, tapi hasil photo-photonya lah yang paling membuat saya nggak bosen berkunjung ke blog The Lost Traveler.

Hal-hal itu yang membuat saya ingin jadi blogger traveler. Mengabadikan tempat-tempat dengan langit terindah dan pesona senja yang menawan. Kemudian menceritakannya pada dunia bahwa disini, ada tempat terindah yang jangan-jangan adalah Surga Dunia.

Ada lagi blogger traveler yang ternyata dia adalah kakak kelas saya ketika kuliah, namanya Iqbal Rois. Nama Blog nya adalah Jalan-Jalan Kemana Gitu. Iya saya tau bahwa Mas yang satu ini nge-blog bahkan beberapa tahun setelah saya lulus. Blog Jalan-Jalan Kemana Gitu bercerita dengan cara yang amat ringan, yang siapapun bisa menikmati tulisannya, bisa merasakan enjoy. Seperti traveling sendiri.

Jadi, Narablog ada yang mau jadi blogger traveler?

Saya mau, saya pingin. Namun sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya tidak mungkin melakukan hal tersebut. Terutama masalah ‘Ijin’ dan ‘Dana’.

Tapi ya… keep on witting lah ya…. apapun yang dibagi, meski nggak traveling yang penting postif.