Jika Ternyata


Jika tenyata kita punya teman sekantor yang hobinya cuma dandan, ribet sekali dengan bagaimana penampilannya, namun sayangnya tidak peduli dengan sekitar. Ya sudah, tidak mengapa, mungkin memang hanya sampai disitu kemampuannya.

Jika ternyata kita punya rekan kerja yang tiba-tiba menelikung dari belakang, cepat dan sakit sekali. Ya sudah, tidak mengapa, mungkin memang hanya sampai disitu kemampuannya.

Jika ternyata kita punya atasan yang gampang sekali mengatakan hal-hal paling benar, membuat dia terlihat hebat sekali, namun ternyata bertolak belakang dengan apa yang dia lakukan. Ya sudah, tidak mengapa, mungkin memang hanya sampai disitu kemampuannya.

Jika ternyata kita pernah memiliki seseorang yang menghuni hampir seluruh hati, memberi janji atas mimpi-mimpi, seakan serupa jawab atas keresahan, namun ternyata dia ringan sekali pergi begitu saja, tanpa pesan, tanpa ucapan selamat tinggal. Ya sudah, tidak mengapa, mungkin memang hanya sampai disitu kemampuannya.

Jika ternyata ada hal-hal menyakitkan yang masuk kedalam bagian cerita hidup kita. Ya sudah, tidak mengapa. Itu hanya cara Allah menunjukkan rasa sayang Nya pada kita.

Ya sudah, ikhlaskan. Segala sesuatunya akan menjadi ringan. Setelahnya Allah akan mengganti dengan kebahagiaan-kebahagiaan.

Demikian…

 

Link Photo

Itu Handphone, BUKAN tablephone!


“Annisa, itu handphone bukan tablephone!”

Itu kalimat yang bagi Annisa sungguh tidak enak di dengar. Tapi sayangnya dia mendapatkan kalimat itu langsung dari atasannya ketika tidak membawa handphone saat keluar kantor.

Kejadian dua hari lalu itu membuat Annisa geram sekali. Bagi Annisa, itu bukan kesalahan, dia hanya lupa membawa handphone. Toh dia hanya keluar sebentar, itu pun karena atasannya meminta tolong dibelikan jajanan untuk tamu.

Tapi ketika dia kembali dengan senyum terbaik sambil menyerahkan jajanan satu tas, bukan ucapan terimakasih yang didapat, tapi malah kalimat pedas itu.

“Ya udahlah, Nis.” Hibur Yudha, teman sekantor Annisa yang tau betul insiden ‘tablephone’ tadi pagi, ketika makan siang.

“Iya emang sudah, Mas Yud.” Masih dengan wajah geram. “Tapi mbok ya mikir. Dia itu tadi minta tolong, dan mana aku inget bawa ponsel wong dia nyuruhnya dadakan suruh cepet, katanya buat tamu. Lagian itu hennnnpon punyaku sendiri kan. Pulsa dan handphone beli aku sendiri, dia nggak punya hak buat ngomong pedes karena aku nggak bawa ponsel.”

“Ya wislah. Karena dia nggak bisa maksa kamu bawa hape, berarti kamu juga nggak bisa dong maksa dia bersikap gimana pas kamu nggak bawa hape?”

“Lhah emang aku nggak maksa dia harus tetep bersikap manis lantaran aku lupa nggak bawa ponsel dan ternyata dia butuh telpon. Buktinya aku tetep diem aja, tetep jawab baik-baik.”

“Ya sudah, kalau begitu jangan ngomel.”

“Bukan ngomel, cuma curhat. Lagian nih ya sebagai atasan, pemimpin terlebih perempuan, harusnya dia bisa menjaga tutur kata. Bukan ngomong semaunya sendiri. Toh bukan aku sengaja nggak bawa hennnpon kan. Harusnya dia tau itu. Tapi sayangnya beliauuuu keburu liat kulitnya aja dan pedes duluan dibanding ngeliat lebih dalem apa yang terjadi.”  Masih dengan muka manyun dan hati mengkal.

“Iya didengarkan curhatnya. Itu baksonya dimakan. Dingin lho…”

“Kenyang”

“Rugi banget. Sini saya yang makan.” Kata Yudha seraya mengambil mangkok bakso milik Annisa.

Oh Dear, begitulah interaksi sosial yang mungkin pernah kita alami. Memang benar kita tidak bisa memaksa oranglain bersikap seperti apa yang kita kehendaki, maka dari itu kita sendiri yang harus menjaga tutur kata, sikap, dan hati. Dan jika kita atasan mungkin lebih baik bertutur sopan, karena atasan bisa jadi panutan. Karena setiap orang punya hati yang berbeda dalam penerimaan. Rasanya menjadi seorang pemimpin memang harus bersikap baik, tidak menyakiti bawahannya dengan kata-kata ataupun perbuatan. Tidak hanya menjadi pemimpin, sesama manusia tetap harus saling menghargai dan menghormati, apapun posisimu.

Hening


“Selamat Pagi, Mbak Annisa.” Sapa dia pagi ini.

Dia, lelaki yang ramah meski pendiam. Senyumnya selalu mewarnai tiap langkah kemanapun dia pergi. Masuk kantor, keluar kantor, istirahat siang. Senyum dan sapa sudah melekat erat pada sosoknya. Tidak tampan, namun ada energi positif yang memancar deras dari wajahnya, dan itu selalu menyenangkan bagi siapapun yang memandang.

Termasuk aku. Kadang aku membayangkan dia menjadi suamiku kelak. Pasti menyenangkan punya suami dengan wajah yang selalu berseri setiap hari, pikirku. Tersenyum. Menggelengkan kepala. Ada-ada saja aku ini. Dia kan hanya menyapa, lalu apanya yang spesial. Tapi seandainya Tuhan menghendaki, aku tidak akan menolaknya, justru aku berterimakasih.

Kalian tau, dari situ ada sedikit harap tertanam. Harapan semoga dia menjadi suamiku kelak. Semoga Tuhan menghendakinya.

“Nissa, kamu nggak istirahat?” tanya Dian, teman kantorku yang duduk tepat di depanku.

“Nanti dulu, ah”

“Tumben? Nunggu apa kamu?”

“Hmmmm” jawabku malu-malu. “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya?!”

Dian mengangguk.

“Nungguin Mas Rangga. Siapa tau habis ini dia turun, terus ngajakin aku makan siang.” Jawabku panjang dengan mata berbinar dan bibir tersenyum lebar.

“Ha?” Dian nyengir, melotot, keningnya berkerut, dan apalah itu segala bentuk keheranan lainnya.

“Kenapa? Ya kalau dia nggak ngajak, ya udah Nasibbb itu namanya”

“Nis”

“Hmmm”

“Kamu suka Mas Rangga?”

“Hmmmm” Mengerjap-ngerjapkan mata.

“Dia kan……………… ……..   udah punya istri, Nissa.  Anaknya juga udah satu.”

“………………………”

Kemudian hening.  Aku mendadak kenyang.