Hujan Pagi Ini


(1)
Hujan pagi ini turun deras. Suaranya bergemuruh. Seperti mewakili hatiku yang dipenuhi gemuruh rindu untukmu.

(2)
Hujan pagi ini, tidak seperti biasanya. Kali ini rintiknya berirama. Seakan mengiringi nadi yang selalu berirama mengalunkam rindu untukmu di tiap denyutnya.

(3)
Hujan pagi ini mengingatkanku tentang kamu. Senyummu. Candamu. Dan tentang caramu memeluk dan menggenggam tanganku. Kau tau? Waktu itu aku percaya kamu akan selalu bersamaku.

(4)
Hujan pagi ini, aku menikmatinya dari balik jendela. Tetesannya membentuk namamu. Mungkin rinduku ini sudah terlalu. Dan pagi ini, semoga Tuhan mengijinkan hujan menyampaikannya padamu.

(5)
Dan pagi ini, aku berharap  kita berdua sedang menikmati irama dari rintik hujan yang sama. Menyesapi getar rindu yang sama. Semoga langit berkata, iya.

Skenario yang Terbaik


Engkau tahu, duhai tetes air hujan, kering sudah air mata, tidur tak nyenyak, makan tak enak, tersenyum penuh sandiwara, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya.

Engkau tahu, duhai gemerisik angin,kalau boleh, ingin kutitipkan banyak hal padamu, sampaikan padanya sepotong kata, tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan melihat semuanya.

Engkau tahu, duhai tokek di kejauhan,setiap kali kau berseru ‘tokekk’, aku ingin sekali menghitung, satu untuk iya, satu untuk tidak, lantas berharap kau berbunyi sekali lagi agar jawabannya ‘iya’, dan berharap kau berhenti jika memang sudah ‘iya’, tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan mendengar semuanya.

Engkau tahu, duhai retakan dinding,sungguh aku tak tahu lagi berapa dalam retaknya hati ini, besok lusa, mudah saja memperbaiki retakanmu dinding, tinggal ambil semen dan pasir, tapi hatiku, entah bagaimana merekatkannya kembali, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya.

Wahai orang-orang yang merindu, maka malam ini, akan kusampaikan sebuah kabar gembira dari sebuah nasehat bijak. Kalian tahu, buku-buku cinta yang indah, film-film roman yang mengharukan, puisi-puisi perasaan yang mengharu biru, itu semua ditulis oleh penulisnya. Maka, biarlah, biarlah kisah perasaan kalian yang spesial, ditulis langsung oleh Tuhan. Percayakan pada yang terbaik.

*Repost Dari Note Tere-Liye : Klik Disini

Kamu, Aku, dan Hujan


image

 

1
Hujan, seminggu ini menemani kamu dan aku. Membasahi cinta yang sempat mengering beberapa minggu lalu. Apa kau merasa juga? Atau hanya aku saja?

 

 

2
Semalam, lagi-lagi kamu dan aku diguyur hujan. Sepertinya hujan senang melihat kita bersama. Aku jadi berpikir, bagaimana kalau kita bersatu saja? Aku jadi istrimu dan kamu jadi suamiku.

 

 

3
Hujan semalam membuat kuyup jas hujan birumu, rambutmu, wajahmu. Tapi rasanya kamu lebih tampan dengan rambut basah begitu.

 

 

4
Sebenarnya aku senang sekali jika hujan menyentuh wajahmu. Karena setelah itu aku bisa membawakan handuk kering dan mengusapkannya diwajahmu. Kamu tau, setiap usapannya mengatakan, “aku sayang kamu.”

 

 

5
Ingat tidak setiap aku dan kamu berdua,  selalu ada hujan bersama kita. Aku pernah berpikir, mungkin salah satu dari kita adalah manusia hujan. Atau mungkin kita adalah dua manusia yang ditakdirkan menjadi satu karena hujan?

 

 

6
Aku jadi ingat hujan pertama bersamamu. Kamu aku tertawa, menikmati tiap rintiknya. Saat itu aku berharap ini adalah tanda, aku kamu adalah dua jiwa yang memang sudah dituliskan untuk bersama.

 

 

Posted from WordPress for Android