Romantisme Penanjakan Bromo


Semakin malam beranjak naik, Dingin Bromo semakin memeluk kami erat. Tidur hanya sebuah syarat yang harus dilalui sembari menunggu pagi. Karena nyatanya tidak ada yang benar-benar terlelap bersama mimpi. Hanya memejamkan mata yang lelah, itu saja. Selebihnya, kami masih sadar sepenuhnya.

Pukul 3 dini hari, dengan mengenakan pakaian lengkap mulai dari ujung kepala hingga kaki, kami memulai perjalanan menyenangkan sesungguhnya, seperti yang saya tulis pada posting sebelumnya.  Untuk mencapai puncak Bromo, kami harus menyewa Jeep yang berisi maksimal 6 orang penumpang, dengan harga Rp 875.000,- untuk 4 lokasi wisata di Bromo.

Kami kembali disambut dengan jalan tikungan terjal berliku yang menakutkan. Namun lagi-lagi saya mengatakan, jalan terjal berliku itu hanyalah syarat yang harus dilalui untuk mencapai puncak Bromo dengan janji cantiknya matahari terbit. Sempat terbersit pemikiran, perjanalan ke Bromo ini seperti jalan kehidupan saja, yang harus dilalui dengan penuh usaha keras untuk sampai dipuncaknya. Maka, usaha keras hanyalah syarat yang harus dilalui untuk mencapai kesuksesan dengan janji kehidupan yang lebih baik.

Bukan berarti berangkat lebih awal membuat puncak Bromo masih sepi. Sesampainya di sana, sudah banyak Jeep yang memenuhi jalur penanjakkan. Orang-orang, meski masih sepagi itu, sudah riuh tertawa, berteriak, dan lainnya. Sepeda motor saling berebut untuk naik ke atas terlebih dahulu. Sungguh pemandangan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya di tempat tinggal saya. Senang melihatnya.

Rintik gerimis pun turun tanpa undangan, saya dan lima kawan saya melangkah mantab mulai menapaki jalur penanjakkan. Dataran tinggi membuat saya harus mengeluarkan tenaga lebih untuk berjalan, namun semua itu tidak terasa karena di sana, semua orang melangkah dengan penuh sukacita, tawa, bahagia.

Sebenarnya gerimis yang menetes di awal tadi sudah menjadi firasat buruk. Karena bisa jadi matahari akan malu-malu untuk muncul kepermukaan, dan lebih memilih tenggelam dibalik awan mendung yang menggantung. Dan benar adanya. Matahari benar-benar malu memperlihatkan cahaya cantiknya dan enggan memberikan hangat sinarnya pagi itu.

IMG_1814

Kecewa? Mungkin. Namun saya tidak dibuat kecewa hanya karena matahari gagal tampil pagi itu. Show must goes on. Tidak ada matahari, lampu pun jadi. Dan saya pun berfoto dibalik gelapnya subuh di depan sebuah gedung tinggi dengan lampu kuning. Alhasil, saya pun mendapatkan foto siluet diri saya dengan sorot cahaya lampu dihadapan matahari yang malu-malu.

Namun semua itu terbayar ketika saya memutuskan untuk turun, mencari pesona Bromo yang saya yakin tidak hanya dimiliki oleh matahari yang lebih memilih bersembunyi dibalik awan itu. Bromo, setiap jengkalnya ada pesona, setiap sudutnya adalah jurang keindahan dari Sang Maha Pencipta. Kabut putih yang turun pelan-pelan disana, membuat suasana pagi menjadi amat romantis dan dramatis.

_MG_1899

Ada rindu di Bromo, ada seseorang yang setahun lalu juga menginjakkan kakinya di Bromo. Dan kini saya pun merasakan dingin yang sama dengan dia waktu itu.

_MG_1865

Sejenak saya melihat sekeliling yang kini mulai diterangi cahaya pagi. Terdiam. Dan sungguh biarkan saya mengucapkan syukur kepada Sang Maha Kuasa atas segala sesuatunya di alam semesta. Nafas saya tertahan, terimakasih ya Allah sudah menciptakan alam semesta seindah ini. Alam yang masih bisa menenangkan ketika melihatnya, langit yang terasa begitu lapang ketika mememandangnya, dan tentram ketika kita memejamkan mata.

IMG_1912

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? Penanjakan Bromo dan segenap yang melingkupi keindahannya adalah sedikit dari sekian bukti bahwa Allah adalah Maha Baik.

Biarlah


Malam ini tiba-tiba hujan turun deras sekali. Berirama. Membuatku kuyub. Membuat sepatu kerjaku basah tak terhindari, pakai apalah aku besok ini, tak ada sepatu lagi. Tapi biarlah.

Harusnya tadi aku cepat merapat. Berteduh bersama pengendara motor lainnya di pinggir-pinggir jalan. Di bawah atap toko-toko yang sudah tutup. Tapi tak kulakukan. Biarlah aku kuyub karena hujan. Biarlah aku menggigil sebentar. Sudah lama aku tak merasa kedinginan. Mati rasa.

Tapi hujan malam ini berbeda, pun angin yang mengiringinya. Aku merindumu. Teringat ketika kau memacu motor cepat-cepat bersamaku, takut-takut basah kuyub karena hujan. Tapi kita tertawa, menikmatinya. Aku teringat ketika berteduh menggigil bersamamu, tapi kita tetap bercanda. Biarlah, biarlah hujan terus menderas agar kita tetap bersama. Bercanda. Aku teringat ketika cemas sekali menunggu kedatanganmu. Takut sekali terjadi apa-apa denganmu. Di bawah atap sempit, berkali-kali melihat ke ujung jalan. Berkali-kali wajah ini basah terkena tampias hujan. Biarlah wajah dan bajuku basah, asal aku adalah orang pertama yang tau kamu baik-baik saja.

Namun sungguh, hujan dan angin malam ini berbeda. Aku tersenyum mengingatmu. Seolah tidak pernah ada rasa sakit itu, seolah hilang luka tercabik karena kau tiba-tiba menjauhiku.

Sejak malam ini. Ketika rintik hujan membasuh wajah, ketika angin menerpa dingin. Biarlah, biarlah semua kulepas sebagai kenangan. Biarlah, biarlah semuanya menjadi masa lalu yang tertinggal dibelakang. Aku akan berdamai.

Biarlah, biarlah aku menikmati sepotong hatiku yang tersisa kini, menguatkan diri. Mencoba berdamai menyambut pagi. Biarlah, biarlah kamu dan masa lalu itu pergi membawa separuh hatiku yang lain.

Biarlah hujan malam ini untuk terakhir kalinya mengisahkan cerita lalu tentang kamu dan aku. Biarlah hujan malam ini menghapus semua gerakan resah, helaan napas tertahan, dan mimpi-mimpi patah hati.

Selamanya.

Malam-malam menyesakkan dengan seluruh gerakan resah.

Malam-malam menyesakkan dengan seluruh gerakan resah.

*Mas jamil, semoga kamu selalu bahagia.

Rindu itu Kamu


(1)
Hai..
Apa kabar kamu di sana?
Sedang apa? Tidur? Sibuk? Atau kita sedang menikmati bulan sabit yang sama?

(2)
Akhir-akhir ini entah kenapa aku selalu memikirkan kamu. Membayangkan kamu ada di depanku. Mengenang semua hal indah antara aku dan kamu.
hingga…
Merobek memori pahit di akhir perpisahan kamu dan aku.

(3)
Beberapa hari ini hujan selalu turun. Aku jadi ingat hujan pertama bersamamu. Kita berteduh berdua, kedinginan, tapi kamu tau? Ditengah hujan jika itu denganmu adalah hal yang paling menyenangkan untukku.

(4)
Hai…
Apa kabar kamu di sana? Pernahkah kamu sekali saja teringat tentang aku?  Tentang hari-hari yang terlalui dulu? Tentang hujan bersamaku? Tentang edelweis yang kau bawakan untukku? Tidakkah kamu rindu padaku? Aku rindu kamu. Sangat rindu, dan mengingatmu sudah menjadi ritual pengantar tidurku.

(5)
Kau tau?
Aku selalu berangan-angan, andai aku bisa menyampaikan rindu ini padamu. Tapi sayangnya itu hanya anganku.
Maka akhirnya, sebelum tidur, aku selalu memejamkan mata, menitipkan rindu ini pada sang Maha Pemilik Rindu. Berharap, semoga rindu ini tersampaikan padamu. Entah bagaimana, tapi hanya itu yang bisa kulakukan. Dan aku percaya rinduku tersampaikan, hanya saja tak kau dengar.

(6)
Hai…
Apa kabar kamu di sana?
Semoga langit berkenan mempertemukan kita lagi.
Disuatu tempat, suatu saat.

 

Malam-malam menyesakkan dengan seluruh gerakan resah.

Malam-malam menyesakkan dengan seluruh gerakan resah.