Menanti Pasir Yang Berbisik


Matahari sudah setengah meninggi, namun dingin masih tetap setia menyelimuti. Saya berusaha menggerak-gerakkan tubuh agar tidak terasa dingin, karena sebentar saja kaki ini berhenti melangkah, maka dingin akan segera menyergap hingga ke dalam pori-pori. Maka pakaian tebal tetap menjadi pilihan yang paling nyaman untuk dikenakan sepanjang hari.

Akhirnya saya sampai di sebuah padang yang amat luas, tidak ada penghalang, tidak berbatas. Tiba-tiba saya merasa menjadi amat kecil ketika menghempaskan kaki turun dari jeep. Jangankan tumbuhan, batu pun hanya terlihat satu atau dua, mungkin tiga.

IMG_2062

Tempat ini, meski tanpa tumbuhan dan bebatuan khas pegunungan, namun tetap menyimpan eksotisme keindahan alam. Hanya pasir yang terlihat sejauh mata memandang dengan langit yang setia bernaung di atasnya. Kata orang ini adalah padang pasir Bromo yang mampu berbisik.

Entah apa yang pernah dibisikkan pasir-pasir ini kepada yang para penceritanya. Anggaplah ini adalah kunjungan pertama saya ke Surga Dunia milik Allah ini, dan sedari tadi saya tidak mendengar sedikit pun pasir-pasir ini berbisik selamat datang, atau pun bertanya kabar. Jadi sungguhkah pasir-pasir ini mampu berbisik? Saya penasaran sekali.

IMG_6746

Lama saya berdiri di sana, diantara pasir yang berterbangan terbawa angin. Mana? Mana ada pasir yang berbisik? Kali ini saya mencoba untuk berjongkok, mencoba berjarak leibih dekat dengan pasir-pasir yang enggan membisikkan selamat datang itu. Saya mencoba diam, menyiapkan telinga paling peka yang pernah ada, menyiapkan hati jika benar-benar pasir-pasir ini membisikkan kata mesra kemudian.

Beberapa detik saya terdiam, membiarkan kawan saya lainnya sibuk dengan pose-pose paling menawan mereka di depan kamera. Saya benar-benar menunggu pasir yang berbisik diantara angin Bromo yang bertiup semilir menyentuhi kulit. Dan ya… saya mendengarnya. Pasir-pasir itu baru saja berbisik. Pasir-pasir Bromo yang sungguh berbisik bersama angin yang membawanya menari diantara dingin. Mereka menyapa saya.

Saya bukan gila. Pasir-pasir itu memang seakan berbisik, bagaimana bisikannya? Susah jika harus digambarkan. Namun saya yakin anginlah yang memaksa pasir-pasir itu membisikkan selamat datang kepada siapa pun yang menjejakkan kaki di sana, berbisik sampai jumpa lagi ketika pengunjung mulai beranjak pergi. Mungkin itu yang dikatakan pasir-pasir itu. Iya kah? Entah. Tapi berimajinasi saja. Lagi pula, berimajinasi itu menyenangkan. Anggaplah bisikkan-bisikkan pasir itu karena menyambut kita, meski sebenarnya hanya karena angin, bergesekkan, dan akhirnya saling berbisik satu sama lain.

Pasir berbisik. Iya, begitulah para pencerita itu menyebutnya. Dan hari itu saya menanti pasir-pasir itu berbisik. Mungkin saja, diantara sekian pasir di padang itu, ada yang tiba-tiba membisikkan namanya. Dia yang setahun lalu juga berada di sini. Menyapa pasir-pasir yang menari bersama angin, meninggalkan namanya yang kemudian akan disampaikan pada saya suatu hari lewat pasir yang berbisik. Karena saya sempat menitipkan bisik pada pasir-pasir di sana, “Hei, jika dia suatu saat kembali ke sini, tolong bisikkan namaku ditelinganya. Terimakasih.

IMG_6745

Dingin Bromo Yang Memeluk Rindu


Dingin Bromo mungkin sanggup membekukan jemari, membuat siapa saja lebih memilih berlama-lama dibawah selimut dibandingkan berlari keluar dimalam hari, membuat hujan yang sudah dingin akan terasa lebih dingin. Namun dingin ini yang membuat siapa saja akan rindu untuk kembali lagi kesana. Memeluk dingin dalam heningnya malam Bromo.

Bromo, 25 Januari kemarin, tidak ada lagi yang mampu saya rasakan selain dingin. Hari itu saya memulai perjalanan menuju gunung dengan pesona terindah sepanjang masa. Bersama 5 orang teman lainnya, Avanza veloz putih melaju dengan gagah menembus berderet-deret mobil sepanjanga jalan Sidoarjo – Bromo. Iya saya berangkat dari Sidoarjo, waktu itu pukul 19.30 WIB.

Malam itu saya begitu menikmati jalanannya yang berliku-liku. Maklum, terakhir kali saya ke Bromo ketika saya masih duduk dibangku Sekolah Dasar, sudah sangat lama, dan kali ini saya tidak ingin menyia-nyiakan perjalanan ke sana. Tikungan-tikungan tajam yang biasanya hanya saya lihat melalui permainan Need For Speed, hari itu saya mengalaminya. Saya tidak pegang setir, tapi cukup dengan ikut melihat kedepan, melihat sendiri bagaimana tikungan tajam menanjak dilalui mobil yang saya tumpangi, dan saya merasakan bagaimana deg-degan melalui jalanan seperti itu.

22.30 WIB, saya sudah sampai di sana. Memang belum mencapai puncak, namun tempat itu adalah batas terakhir mobil pribadi boleh masuk. Karena masih terlalu lama untuk menunggu fajar, maka kami memutuskan untuk menyewa sebuah rumah penduduk. Rumahnya tidak terlalu besar, memiliki 2 kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam, 4 tempat tidur besar, dan 2 ruang tamu, rasanya rumah ini cukup besar untuk kami berenam. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, Rp 400.000,-, kami bisa sejenak meluruskan kaki dan merebahkan punggung setelah perjalanan jauh.

IMG_1781

Sembari menunggu pagi, kami mengisi perut yang sedari tadi sore belum terisi apapun. Seperti biasa, makanan favorit di daerah dingin seperti ini adalah makanan berkuah panas dan cepat saji. Dan inilah yang kami pesan. Mie Cup yang matang cukup dengan disedu dengan air panas selama 10 – 15 menit.

Kalian tidak akan pernah merasakan kenikmatan seperti ini jika memakan mie cup di rumah. Disini meski belum menginjak dini hari, hawa dingin sudah memeluk tubuh sedikit demi sedikit. Dingin yang tidak bisa dilawan, tidak bisa ditolak, hawa dingin yang tiba-tiba menyergap tanpa bertanya apakah kita mau bersamanya. Tetapi canda tawa, mie cup, dan segelas kopi panas, ditambah dengan foto-foto, semua itu mampu mengusir dingin yang sempurna bercampur dengan udara disekeliling.

IMG_1769

Setelah mie cup tandas, segelas kopi habis, canda tawa hilang, dan sesi foto selesai, kami hanya tinggal menunggu pagi. Merebahkan punggung yang mulai lelah karena perjalanan, meluruskan kaki yang sedikit terasa linu karena dingin. Dan kami pun terlelap dalam buaian hangat selimut masing-masing.

Disini kalian tak perlu khawatir akan bangun kesiangan. Sebelum memesan makanan tadi, kami sudah berpesan kepada Bapak yang menyewakan jeep dan rumah untuk membangunkan kami pukul 03.00 WIB. Waktu dimana semua perjalanan menyenangkan sesungguhnya di Bromo akan dimulai. Waktu penanjakkan bersama puluhan batu, tumbuhan, dan edelweis yang abadi.

Bersyukur Tuhan tidak hanya menciptakan dingin, namun juga memberikan hangat. Yang saat ini sedang merasa Tuhan tidak adil. Tolong dipikirkan kembali.

Cerita ini tidak berhenti sampai disini. Karena Bromo menyimpan banyak cerita menyenangkan yang menarik untuk ditulis. Ikuti terus ya.

IMG_1779

IMG_1774