When Mas Rey Turning 2


Time is running so fast. Tak terasa sudah 2 tahun. Seperti baru kemarin saya merasakan pembukaan demi pembukaan yang begitu menyakitkan. Rasanya baru kemarin tulang-tulang saya seperti dipatahkan untuk perjuangan kelahiran. Dan rasanya baru kemarin saya teriak-teriak mencengkeram baju dan tangan suami saya, untuk kemudian minta operasi saecar yang tidak pernah terjadi.

Waktu melesat begitu cepat. Dia, bayi laki-laki yang diberi nama Reyhan Yusuf Al Fatih, yang tampan rupanya, putih kulitnya, lucu tawa dan tingkahnya, kini sudah menjadi anak usia 2 tahun. Sudah bisa protes, merengek keluar rumah untuk main bareng teman-temannya, minta susu ultra rasa stroberi kesukaannya, sudah bisa teriak minta beli pentol cilok, dan alhamdulillah sudah bisa ngomong meski belum terlalu jelas.

Ahhh, Nak, waktu berlari mengantarmu tumbuh. Ummi hanya ibu biasa, Nak. Tapi Ummi berjanji akan selalu menemani kamu dalam keadaan apapun. Ummi akan selalu mendampingi kamu belajar apapun, Ummi akan selalu menjaga kamu, siap menghadapi siapapun yang membuat kamu takut, sakit, dan menangis. Ummi selalu ada buat Mas Rey.

Ditahun kedua usiamu, terus jadi anak manisnya Ummi, ya. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki serta kesehatan untuk kamu. Memanjangkan umurmu, tawamu, senyummu. Memudahkan semua urusanmu. Menjadikanmu anak shaleh yang berbakti pada Ummi Abi dan taat sama Allah Swt. Serta menghidarkan segala macam penyakit dan hal-hal buruk dari kamu. Aamiin ya Rabb.

Oiya, jangan lupa sayangi terus Ummi, Abi, dan Adek Syam ya, Mas Rey…

Ummi sayang Mas Rey 😘😘
Selamat Ulang Tahun ya Sayang….

Wake Me Up, When September End


“repot-repot kasih hadiah, kamu”, katamu malu-malu.
“Anggep aja ini kado buat kamu, siapa tau September besok kita udah nggak ketemu lagi”, jawabku.
“Kok gitu?”

***

Ucapan adalah doa. Begitu yang kualami.

Aku selalu ingat percakapan itu. Percakapan terakhir ketika semuanya masih baik-baik saja. Ketika aku masih yakin, aku kamu akan bersama, selamanya. Apa sekarang aku tidak yakin? Tentu aku masih yakin, masih sama yakinnya seperti dulu. Bedanya kini kamu tidak bersamaku, kita tidak pernah lagi bertemu.

Sudah beberapa bulan sejak kediamanmu. Kamu pergi, dan aku masih di sini, menunggu, berharap, kamu akan kembali suatu hari nanti.

Bulan ini September,
hari ke 16, tepat hari dimana wall fb dan sms mu akan dibanjiri ucapan selamat dan doa. Aku tak suka hari ini datang,  karena aku pasti bukan termasuk orang-orang yang memberi selamat padamu. Bagaimanalah aku akan mengucapkannya, jika hati ini terlalu takut meski hanya menyapa. Pentingkah sapaku, pentingkah selamatku untukmu?

Mungkin tidak. Aku masih hidup saja mungkin bukan hal penting untukmu. Maka pikirku lebih baik tidak lagi muncul lagi dalam hidupmu. Kau putuskan untuk menjauhiku, maka aku harus berusaha melakukan hal yang sama, meski hati ini tidak.

Wake me up, when September end. Kalimat itu yang selalu kurapal tiap pagi, berharap tidak pernah bertemu bulan September, tidak perlu melewati hari ke 16 nya. Karena mau tidak mau, ucapan isengku menyata.

Namun langit berkata lain, aku harus bertemu September lengkap dengan hari ke 16 nya.

Maka biar kutulis doaku untukmu, kamu tidak perlu tau. Hanya aku dan Pemilik Hati yang tau doaku untukmu. Salah satunya semoga selalu dilimpahkan kemudahan untukmu. Amin.

Selamat ulang tahun mas Jamil… 🙂

16