Bertiga Merayakan Kehidupan



Dear Anak Lanang,
Hai Reyhan, selamat datang di bumi Allah tercinta, di Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, di tanah jawa yang ramah sentosa raya.

Umi sebelumnya nggak pernah percaya yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana bisa percaya, lha wong jatuh cinta sama Abi mu saja, Nak, Umi butuh proses pertemanan dulu, baru entah bagaimana caranya Allah membuat pertemanan itu menjadi pertemanan hidup yang penuh cinta.

Tapi sejak kamu lahir, Nak. Umi baru percaya yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, bahkan sejak memandang kamu dari monitor USG saja Umi sudah jatuh cinta setengah mati. Mendengar detak jantungmu, Nak, itu seperti mendengar suara napas kebahagiaan yang tak tergantikan. Mengetahui kamu sehat tiap sebulan sekali, itu moment yang paling ditunggu, Nak.

Sekarang baru saja seminggu kamu hadir, rasanya Umi sudah jatuh cinta tidak terkira. Nggak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan selain kamu, Nak. Doa Umi setiap waktu hanya mendoakan kebaikan untuk kamu.

Nak, maafkan Umi dan Abi yang kadang masih suka salah ngurusi kamu, suka telat ngasih susu, ASI Umi yang masih keluar sedikit. Maklum, baru seminggu kami jadi orangtua. Umi Abi muda yang sok-sokan pake popok dan nggak mau pake diapers pada awalnya, tapi pada akhirnya kami memilih  berburu diapers karena lebih praktis. Tapi kami terus mengusahakan ASI untuk kamu, Nak. Karena ASI nggak pernah ada gantinya seperti popok Vs diapers.

Kami orangtua baru yang suka sekali ngliatin tingkahmu lucumu waktu tidur, mulet-mulet, mencep-mencep, senyum-senyum ganteng. Kami yang suka resah kalo jam 9 malam tetiba kamu terjaga dan nggak tidur-tidur sampe jam  01.00 atau lebih. Duhh, sungguh kami belum jadi orangtua Pro, Nak. Kami masih orangtua versi trial. Tapi semoga segera upgrade jadi Pro ya, Nak.

Reyhan, memiliki kamu itu anugrah dari Allah yang tidak terkira. Meski melahirkan kamu Umi harus kontrkasi semalaman, diinfus, dijahit, tapi semua itu tergantikan begitu kamu ada.

Nak, Abi Umi meski masih trial, tapi kami selalu berusaha menjadi Pro, memberikan yang terbaik buat kamu. Ah iya, tentu tidak ada orangtua yang mau jadi versi Trial terus, pasti ingin upgrade jadi Pro.

Sehat terus ya, Reyhan. Kita rayakan kehidupan baru ini bertiga, berbahagia selamanya. Kamu cintanya Abi dan Umi, sayangnya Abi dan Umi, gantengnya Abi dan Umi.

Jika Bukan Kamu


Jika bukan kamu, saya nggak tau akan menghadapi hari-hari ini seperti apa. Apakah sama bahagianya dengan saat ini, apakah sama romantisnya seperti saat ini.

Jika bukan kamu, saya nggak tau apa akan ada lagi orang sesabar, selembut, dan sebaik kamu. Mengerti, mencintai, dan selalu menyayangi.

Jika bukan kamu, saya nggak tau siapa lagi yang bisa membuatkan sepiring nasi goreng selezat itu. Dengan sabar mengajariku membuat ayam krispi dengan bumbu yang merasuk ke dalam setiap gigitannya.

Jika bukan kamu, saya nggak tau siapa lagi yang dengan rela dibangunkan tengah malam, mengantar saya ke kamar mandi, mengambilkan saya segelas air putih ditengah kantuk yang dasyat hanya untuk meringankan sakit tenggorokkan saya.

Jika bukan kamu, saya nggak tau siapa lagi yang akan memanggil ‘sayang’ setiap hari. Siapa lagi yang akan bercerita sedekat ini.

Beruntung Tuhan mempertemukan saya dan kamu, mentakdirkannya menjadi ‘kita’, menjodohkan Ratri & Khoirul, menuliskan kita dalam satu KK dengan status kamu suamiku dan saya istrimu, kemudian dibawahnya tertulis nama-nama anak-anak kita yang lucu.

Saya bersyukur, setelah ini akan ada Junior Khoirul yang melengkapi hari-hari bahagia dengan sempurna.

Terima kasih, suamiku. Jika bukan kamu, mungkin saya tidak akan sebahagia ini menjalani hari.

​Drama Minggu Ke 34, 35, 36


Sebenarnya nggak cuma minggu ke 34,35,36 aja yang drama. Dari awal hamil, sudah banyak drama yang berlangsung seru. Mulai dari bau apa sedikit langsung mual pingin muntah, minum susu hamil muntah, musuhan sama makanan, sukanya pilih-pilih, harus makanan yang panas, kalo makanannya udah dingin dan dipaksa makan, pasti mumun sudah saya. Dan masih banyak lagi, yang sebenarnya itu normal, katanya.

Tapi minggu ke 34, 35, 36 ini drama kehamilan ini meningkat. Eh iya, kenapa saya bilangnya minggu ke 34, 35, 36? karena saya sendiri sebenarnya bingung berada pada minggu keberapa kehamilan. hehehe. Menurut USG dokter kehamilan saya berada pada usia 34 minggu. Menurut bidan, usia kehamilan saya sekitar 35/36 minggu. Bidan menghitung berdasarkan HPHT yang saya sendiri bingung HPHT saya kapan. Parahhh.
But, so far, hal terpenting adalah dedek bayi sehat di dalam perut umi-nya. Afi (indeks air ketuban) cukup, gerakan dedek aktif, dan saya udah doyan banget makan, meski nggak doyan doyan amat.

Kembali ke drama minggu-minggu ini. Jadi setelah lebaran ini, entah kenapa saya didera batuk yang amat hebat. Sudah hampir 4-5 hari nggak sembuh-sembuh. Padahal sudah dibawa ke dokter, dikasih ramuan jeruk nipis campur madu, sampe ramuan bunga belimbing campur gula batu. Kurang apa coba? Batuknya nggak kunjung reda. Sampai tulisan ini diposting pun, batuk saya masih on show.

Sebenarnya meski nggak nyaman, kalau saya nggak pa-pa batuk, tapi saya kasihan sama anak dalam perut saya. Pasti setiap saya batuk, dia akan mengalami goncangan dalam perut. Dalam hati saya, hanya terus berucap “Sehat terus ya, Dek.” Terakhir saya kontrol sih, kata dokter maupun ibu bidan dedek bayi sehat. Alhamdulillah. “Teruslah begitu ya, Nak.”

Tidak berhenti sampai disitu, tidak hanya batuk yang mendera. Setelah lebaran saya juga mengalami menggigil yang begitu dasyat. Sekujur tubuh rasanya dingin dari dalam. Nah lho, bayangkan menggigilnya dari dalam. Kalau dari luar masih bisa diselimuti, tapi ini dari dalam. Meski terasa sedikit hangat ketika diselimuti, tapi tetap rasa menggigil itu tidak terkira adanya.

Galau-nya lagi adalah udara diluar itu cukup panas, sebagai wanita hamil yang normal, suhu badan saya meningkat. Jadi saya merasa kedinginan tapi basah kuyub keringat di luar. Maka serba salah lah saya, selimutan terasa gerah, pakai kipas angin kedinginan. Dan semuanya berakhir dengan saya menangis karena bingung saya tidak tau harus berbuat apa.

Ditambah lagi, pinggang saya nyeri sekali 2 hari ini. Pinggang saya tidak mau bersahabat terutama saat pindah posisi.

Tapiiiii, dibalik semua drama akan selalu ada romantisme-nya sendiri. Beruntung saya punya suami yang selalu siap siaga. Dia melakukan banyak hal untuk membuat saya nyaman di usia kehamilan yang sudah masuk trisemester akhir ini.  Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baiknya balasan ya, Sayangku. Mmmuuuacchhh.

Namun yang paling beruntung adalah saya setelah ini akan jadi ibu, dan suami saya akan jadi ayah. So, what else? Tinggal menghitung minggu, dan semoga semuanya berjalan lancar, semoga dedek bayi sehat selalu, saya sehat, dan ayahnya juga sehat. Aamiin.