Full Mom Vs Working Mom


Saya ibu rumah tangga.. tapi menjudge ibu-ibu bekerja yang menitipkan anak pada neneknya adalah ibu yang mau enaknya sendiri saya rasa kurang tepat ya…

Menurut saya, semua ibu pasti ingin merawat anaknya sendiri, mungkin kalo bisa nih ya.. sambil kerja bisa ngramut anak. Tapi kalau ternyata ada sesuatu hal yang mungkin kita nggak tau dan membuat mereka terpaksa menitipkan anak pada orang-orang dekat seperti neneknya, bagaimana? kan kita cuma lihat dari satu sisi, bagaimana dengan sisi lainnya?

karena anak itu berharga, jadi ketika seorang ibu terpaksa bekerja, maka mereka memutuskan untuk menitipkan anaknya pada orang yang tepat dan tentu penuh kasih sayang. Kan kita nggak tau apa-apa yang sedang mereka perjuangkan.

Jadi, hargai keputusan mereka. Saya bukan membela, tapi menghargai apa yang dilakukan orang lain itu perlu. Kan kita juga pingin dihargai kan??

Intinya sih ya, semua itu keputusan masing-masing pihak. Yang full mom di rumah bisa ngramut anak, nggak usahlah memuji diri sendiri sudah menjadi ibu yang baik dan benar, kalo bahasa jawanya ngapik-ngapik awake dewe atau nggak usah juga menyalahkan para ibu bekerja, bersyukur saja bisa merawat anak dengan tangan lembut penuh hangat kasih sayang ibu. Dan bagi para working mom hargai juga para ibu rumah tangga dengan segala keputusannya.

Advertisements

Menulis Itu…


Narablog suka menulis? Saya suka. Karena itu saya punya blog yang nggak bertema ini. Jadi apapun yang saya pikirkan bisa saya tulis dalam blog ini. Tanpa perlu memilah, tanpa perlu mengkotak-kotakan apa yang ingin saya tulis. Karena hidup ini tidak soal mengkotak-kotakkan.

Bagi saya, menulis itu adalah terapi atau obat. Obat apa? Obat untuk melampiaskan rasa sakit yang tak terucap. Obat untuk mencurahkan kesedihan yang tak tersampaikan. Obat untuk menggantikan air mata yang tak mungkin dikeluarkan. Bukankah kata orang, mendengarkan masalah orang lain itu lebih ringan dari pada memikirkan masalah sendiri. Anggap saja dengan menuliskanya, kemudian membacanya berulangkali, kita sama seperti sedang mendengar atau membaca masalah orang lain. Mungkin bisa meringankan.

Terkadang menulis itu juga bisa sebagai suratan kenangan. Ketika saya sedang bahagia, saya juga menuliskannya. Rasanya seperti sedang mengabadikan kebahagiaan dalam hati yang tidak cukup diluapkan dengan tawa dan air mata. Kemudian suatu saat, saya bisa membacanya kembali, bahkan berulangkali. Menyadarkan saya, bahwa Allah itu Maha Baik, Dia pernah menyisipkan kebahagiaan dalam hidup saya, dan itu akan membuat saya kembali mensyukuri hidup ketika saya mulai kufur nikmat.

Kalo kata Soe Hok Gie, “menulis pun kadang melelahkan“. Ya, benar. Menulis itu kadang melelahkan. Ketika saya dikejar deadline yang mematikan. Menulis sudah seperti lari maraton berkilo meter,  jauh, capek, dan panjang. Atau seperti masuk rumah kaca. Buntu. Semakin dikerja waktu, semakin nggak ada ide untuk menulis , semakin berantakan tulisan.

Tidak jarang juga, menulis itu berkah. Berkah untuk siapa? Untuk mereka yang menggantungkan hidupnya dari susunan alphabet bersuku kata. Saya pernah merasakan ini. Meski hanya setahun. Ketika tulisan kamu dibayar, betapa kamu seperti menemukam tambang emas tanpa susah menggalinya.

Menulis itu harapan. Harapan bagi mereka yang mengikuti lomba, atau harapan bagi mereka yang berharap. Seakan seperti doa-doa yang terpanjat abadi. Setelah mengirimkannya berpilin ke langit. Kemudian harapan itu dituliskan bahkan mirip seperti doa yang terus diulang-ulang.

Kamu suka menulis?

Celoteh Uus Vs KPop Lovers


Ini bukan urusan saya sih, cuma jari saya tiba-tiba gemes pingin ngetik di blog. Hehehe. Soal Uus, si Stand Up Komedian yang pernah jadi Host di Stand Up Comedy Academy, ini orang katanya sih menghina Kpop Lovers. Eits, Narablog yang salah satu Kpop Lovers jangan tersinggung lho ya dengan posting saya ini.

Setelah saya baca berita soal Uus ini, saya tertarik dengan bahasannya. Hijab. Kemudian saya segera kepoin tweet milik Uus yang harus saya scroll ke bawahhhhh banget karena bejibun sekali tweet war nya. Hehe. Sampe ada hastag #RIPUus. Duhh,, kok pada sampe nyumpahin orang cepet mati, sih. Padahal disumpahin atau nggak, mati itu pasti dateng kok.

Jadi setelah baca tweet-tweetnya Uus, menurut saya konsen tweet nya Uus itu soal hijab, hanya saja kesalahan Uus adalah mengambil contoh para Kpop Lovers yang (harusnya) tidak bersalah.

Kira-kira tweetnya Uus @Uus_ itu seperti ini:

uus

Jadi mungkin maksudnya Uus itu, sebagai muslimah yang berhijab harusnya memiliki nilai plus dalam berperilaku. Karena hijab sendiri memiliki sesuatu yang plus di mata orang kebanyakan. Entah itu hanya pendapat atau dugaan, tapi wanita yang berhijab pasti akan dianggap patuh shalat, rajin ngajinya, tutur katanya lemah lembut, dan lain-lain yang plus. Meski pada kenyataannya tidak semua wanita berhijab seperti itu. Namun, bagi Uus wanita berhijab sikapnya juga harus diperbaiki. Meski sebenarnya, tidak ada hubungannya hijab dengan perilaku. Hijab itu sudah tentu kewajiban setiap muslimah, jadi tidak bisa dikaitkan dengan perilaku. Kalau sudah begini saya jadi ingat perkataan Ustadz Felix Siauw, muslimah berhijab memang belum tentu baik, tapi muslimah baik pasti berhijab.

Karena ini hanya pendapat saya, jadi saya hanya bisa mengeluarkan opini kemungkinan-kemungkinan:

  1. Mungkin maksud Uus nge-tweet begitu, karena harusnya wanita berhijab itu tidak keluar malam. Mengingat konser-konser pada umumnya diadakan saat malam tiba dan hingga larut malam.
  2. Mungkin maksud Uus nge-tweet begitu, karena harusnya wanita berhijab itu tau kalau bersentuhan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram itu tidak boleh, padahal dalam satu ruangan konser bisa banyak sekali terjadi sentuhan, meski tidak disengaja sih aslinya.
  3. Mungkin maskud Uus nge-tweet begitu, karena buat apa sih nangis-nangisin idola, padahal setiap air mata yang menetes, nantinya ketika kita berada dalam liang lahat, akan ditanya untuk apa dan untuk siapa air mata itu keluar.
  4. Mungkin maksud Uus nge-tweet begitu, karena setiap apa yang dilakukan nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Kamu gunakan untuk apa saja hidupmu. Karena itu kenapa Uus membandingkan konser dengan Mamah Dedeh. Karena pergi ke pengajian itu tercatat sebagai suatu kebaikan. Mungkin uang yang dibelikan tiket konser bisa digunakan untuk sedekah, jadinya lebih bermanfaat.

Yaaa, mohon maaf Narablog, itu hanya kemungkinan-kemungkinan menurut saya soal tweet nya Uus. Namun dibalik kemungkin-kemungkinan itu, Uus mungkin mengatakannya tidak pada tempatnya. Dan kalimatnya harus dipilih lagi. Tidak bisa asal nyeplos, karena setiap hati memiliki perasaan yang berbeda. Ada yang sensitif, ada pula yang santai kaya’ di pantai. Saya juga tidak menyalahkan kalo para KPop Lovers ngamuk dan sampe nyumpahin Uus, karena nyatanya mereka masih menjalankan perintah agama dengan baik, kok. Kan semuanya butuh proses ya, Mas Uus. 🙂

Saya bukan fans nya Uus sih, saya juga buka Kpop Lovers, saya hanya perempuan ndeso yang harus banyak belajar soal sosmed. Tapi ada teman saya yang menjaga betul perilaku ketika sudah mengenakan hijab, tapi ya sudahlah. Muslimah berhijab kan tetap manusia, bukan malaikat, dan sedang berproses menuju taat.

Semoga kita terus dalam ke-istiqomah-an, ya. Aamin. Pokoknya jangan pernah mengatakan, “Nerakaku bukan urusanmu, apalagi Surga belum tentu menjadi tempatmu” ya. Itu kalimat paling sombong sedunia. Karena manusia itu tugasnya saling mengingatkan. Surga dan neraka memang urusan masing-masing, tapi saling mengingatkan tidak bisa menjadi urusan masing-masing.