Seperti Pagi


Seperti pagi yang baru..
Mungkin kemarin ada harap yang tertinggal, semoga hari ini semua harap menemukan jawabnya…

Seperti pagi yang menawarkan kesejukan…
Katanya hari baru adalah harapan baru, maka semoga selalu ada harap ditiap terbitnya mentari yang sekaligus menjanjikan kehangatan…

Seperti pagi mengantarkan embun yang menggantung dipucuk-pucuk daun..
Ada doa-doa yang terlantun, berpilin indah ke atas..
Dan semoga Langit berkata iya..

Seperti pagi yang memulai hari dengan hangat mentari..
Semoga hari ini benar-benar ada jawab yang menyambut hangat doa-doa yang tersimpan…

Selamat pagi…

Posted from WordPress for Android

Percakapan Terakhir


“Ada kata yang belum sempat terucap, ada rasa yang tersimpan rapat,
dan ada hati yang tertinggal selamanya ditempat”

Hari itu langit cerah, awan putih bergulung manis diatas sana. Ada harap yang menggantung, ada rasa yang tersimpan, ada hati yang terpaut. Langkah Suri tetap ceria, senyumnya merekah, tawanya mewarnai ruang kerjanya, semua terlihat normal seperti biasa, apa adanya. Namun taukah, itulah mengapa ada pepatah ‘Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu’, karena jika kita sedikit saja diberi kemampuan mengintip hati orang lain, maka kita akan tau, hati Suri tak seceria itu.

Hari ini akan ada seseorang yang pergi. Mungkin bisa bertemu lagi, atau jangan-jangan tidak akan kembali. Waktu begitu cepat. Sabtu biasanya menjadi hari paling membosankan sejagad. Bekerja fullday diakhir pekan berarti sama seperti merangkak mengikuti jarum jam. Lama. Namun tidak untuk Sabtu ini.

Berkali-kali Suri mengalihkan pandangannya ke meja kerja depan. Berharap orang yang duduk di sana akan menengok kebelakang, mengajaknya mengobrol, atau mungkin hanya sekedar melempar senyum. Tapi tidak. Orang di depan sana tetap fokus pada pekerjaannya. Ayolahh, ini hari terakhirmu disini, apa tidak ingin mengucap sepatah kata apapun padaku? Suri membatin, berharap ada obrolan yang bisa menjadi kenangan. Setidaknya mengatakan kata-kata perpisahan sebelum benar-benar berpisah.

Detik berganti menit, menit berganti jam, waktu terus berputar. Shalat dhuhur dan ashar pun lewat sudah. Tetap tak ada ucap perpisahan antara mereka. Hanya diam, atau kadang melempar tatap tanpa kata.

Suri menatap kosong layar komputernya. Tidak ada yang dikerjakan, meski harusnya ada berkas yang wajib selesai hari itu. Ya sudahlah, mungkin hanya aku yang merasa, mungkin dia memang tidak punya satu kata perpisahan. Apalah aku, kenapa jadi berharap yang bukan-bukan. Suri merutuki dirinya sendiri.

“Fotonya cantik, Mbak..” sebuah jendela pesan tiba-tiba muncul. Dari dia yang ada di depan sana, dia yang sepertinya fokus sekali pada pekerjaannya.

“Hehe, iya kah? Foto yang mana? Ketik Suri cepat membalas pesannya.

“Tadi fotonya ada, sekarang tiba-tiba ilang”

Ada senyum yang merekah tanpa diperintah, ada hati yang menari karena puji. “Iya, fotonya doang cantik. Aslinya sih biasa aja”

“Cantik kok..”

“Minta ditraktir apa, Mas? Tumben muji?”

“Nggak minta apa-apa kok :)”

“Saya senang bisa kenal kamu.” Kata Suri menjawab pesan tadi.

“Saya juga senang bisa ketemu kamu. Semoga suatu saat bisa ketemu lagi dalam keadaan yang lebih baik, ya..”

“Aamiin. Jangan ganti nomor hape ya..”

Dan sore pun menjadi lebih hangat. Senja menjadi lebih merona karena sebuah percakapan. Percakapan terakhir diambang perpisahan. Percakapan sederhana dengan iringan rasa masing-masing dalam jiwa.

*Cerita diatas adalah fisi. Hari ini saya mencoba menulis fiksi lagi. Dan inilah hasilnya. Saya merasa kurang sreg, tapi sungguh saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Mendapat ide cerita sedikit, dan sedikit ditambah-tambah. Rasanya kaku, mungkin karena lama nggak nulis fiksi. But, ya inilah… semoga besok-besok fiksi saya lebih baik. Aamiin. Menurut Narablog, apa yang kurang?

Posted from WordPress for Android

Ternyata?


Langit sore hari ini tidak mendung, senjanya memeluk hangat setiap penikmatnya, pendarnya merah merayu siapa saja yang meliriknya. Apa setiap orang juga sedang menikmatinya? Atau mungkin hanya aku saja?

Mataku terus memandangi cantiknya sore. Ada rasa yang menghangat dalam hati. Membuat bibir ini tak henti-hentinya tersenyum, pipi ini terasa merona. Iya, aku sedang jatuh cinta. Ada seseorang yang membuat hati ini terpana. Membuat malam-malam menjadi lebih syahdu, dengan mimpi-mimpi indah bersamanya. Andai dia bisa tau isi hatiku, andai aku bisa mengutarakan isi hati ini padanya. Lamunanku melayang jauh, menari bersama ribuan awan diatas sana.

“Hei! Sorry telat, Neng..” lamunanku tiba-tiba bubar. Angel, sahabatku datang tergopoh-gopoh, menepuk bahuku dari belakang. Keras sekali. Tapi tak apa, aku sedang jatuh cinta, badai datang pun tak kuhiraukan. Kami memang janjian sore ini, di cafe favorit kami. Aku sudah tidak sabar menceritakan seseorang yang sudah mencuri perhatianku beberapa bulan ini.

“So, ada apa, sih? Kaya’nya serius banget” Tanya Angel penasaran

“Menurut situ?”

“Yaaa.. meneketehe. Hmm.. jatuh cinta yaa…” Tebak Angel.

“Hahahaha, nggak salah deh aku pilih kamu jadi sahabat.”

Aku terdiam sejenak. Menerawang ke depan, membayangkan seakan-akan seseorang itu ada di sana, sedang balik menatapku. Tersenyum.

“Dia itu sabar banget. Baik, pinter, ramah, dan suka menolong”

“Hoho, udah kaya Pangeran dalam cerita Cinderella. Siapa sih, Cin?”

Aku tersenyum, membuka tasku, berusaha mencari ponsel. “Nih, orangnya”

Angel melotot, keningnya berkerut. Seperti ada sesuatu yang aneh dengan photo yang kutunjukkan. “Ini orangnya? Yakin?”

Aku mengangguk mantab dengan senyum manis masih dibibir.

“Nis, kamu yakin jatuh cinta sama orang ini?”

“Yakinlah. Emang kenapa?” Tanyaku mulai takut.

“Nggak pa-pa sih, Nis. Tapi masa kamu nggak tau?”

“Tau apa?”

“Mas ini kan sudah menikah, Sayang”

“Hah? Dia sudah menikah?”

Kemudian hening.