Ummi Bahagia


Mas Rey & Adek Syam

Nyenengin ibuk-ibuk itu gampang kok. Cukup anak-anaknya anteng,  gak rewel, duhhhh ibuk udah bahagianya dunia akhirat.

Seperti kemarin, Mas Rey dan Adek Syam pinter banget jadi anak sholeh. Mereka nggak seribet biasanya. Mas Rey sarapan dengan lahap, mulutnya dibuka lebar, nggak pake mingkem-mingkem ala GTM seperti biasanya. Yaaa.. meskipun nggak habis bersih, tapi sisanya cuma dikit.

Selain itu, habis sarapan mainan sebentar, terus Mas Rey sendiri yang ngajakin bobok. Jam 8.30 dia jalan sendiri ke kamar (eh iya, Mas Rey sekarang sudah bisa jalan, lhooo…), naik ke tempat tidur sendiri, terus dibikinin susu ehhh nggak sampe 5 menit, Mas Rey sudah bobok ganteng.

Terus kalo Adek Syam gimana? Adek Syam juga pinter bingo. Bangun tidur pagi, setelah dimandiin, dinenenin sebentar dia terus bubuk. Agak lama bangun minta nenen, dineneni sebentar udah bobok lagi sampe siang. Padahall ya Narablog, biasanya Adek Syam ini kalo nenen lamaaaaa banget. Bisa berjam-jam. Nenennya dilepas nangis, minta nenen lagi, ditaruh nangis. Kannn Ummi nya jadi capekkkkk, Dekk.

Nahhh, karena kemarin Mas Rey dan Adek Syam nya pinter nggak rewel, jadi Ummi nya a.k.a saya bahagia tiada taraaaa. Yesss, ummi jadi bisa cuci-cuci tanpa terkendala apapun, bisa lempit-lempit baju yaaa meski belum disetrika, at least bajunya agak rapian kan di bak cucian. Jadi nggak bikin mata sumpek. Karena sesungguhnya ibu rumah tangga nggak boleh jadi sumpek. Sekali dia sumpek, sumpek pula seisi rumah.

Pinter terus yaaa para gantengnya Ummi. Ummi love you both.. Mmmuuuacchhh.

Advertisements

Caesar atau Normal, Hebat Mana?


Beberapa hari ini timeline Facebook saya dipenuhi dengan tautan-tautan yang dishare banyak teman soal melahirkan Caesar ataupun normal. Namanya juga media sosial, siapapun bebas berpendapat termasuk berpendapat soal mana yang lebih hebat, melahirkan secara normal atau caesar.

Duhhh, gemes rasanya saya. Apa pula pentingnya ibuk-ibuk ini nge-share demikian? Kenapa pula harus mainan hebat-hebatan? Bukankah semua ibu itu hebat? Mau melahirkan normal atau saecar semua sama hebatnya. Nggak perlu sombong, pongah, atau apalah itu namanya.

Saya ibu satu anak yang sedang mengandung anak kedua sekarang. Saya melahirkan anak pertama saya dengan cara normal. If you only  knew,  kalau saya ditanya “Gimana sih rasanya melahirkan normal?” akan saya jawab sakitnya Allah Akbar. Terserah orang mau bilang saya adalah orang yang manja nggak tahan sakit and the braw and the braw and the braw, terserah. Yang jelas pengalaman melahirkan anak pertama saya itu sakitnya luarrrrrr biasa. Terlebih waktu itu saya diinduksi. Kalian tau, ketika rasa sakit melahirkan yang kata orang cuma mules-mules itu datang, yang terpikir dalam benak saya, Ya Allah apa sakitnya sakaratul maut itu seperti ini? Sakit sekali. Meronta sekuat apapun sakitnya tidak akan berkurang. Bayangkan waktu itu saya harus mengalami kesakitan semalaman. Saya berkali-kali bertanya jam pada suami saya, untuk apa? Untuk memastikan waktu segera pagi, itu artinya rasa sakit pembukaan itu akan segera berakhir dan saya akan segera melahirkan, meski saya waktu itu tidak tau akan melahirkan jam berapa.

Akhirnya pagi menjelang, tapi apakah rasa sakit saya lalu hilang? bidan memeriksa saya lagi, teryata masih bukaan 3. MasyaAllah, sesakit itu semalaman masih bukaan 3? Itu artinya masih ada 7 bukaan lagi? Lalu bidan memutuskan untuk meng-induksi saya karena air ketuban dalam perut sudah berwarna hijau. Dan kalian tau rasanya? berkali-kali lipat sakitnya jika dibandingkan yang semalam. Saat itulah saya berpikir soal sakaratul maut. Saya sudah berpikir nggak ada yang bisa nolongin saya mengurangi rasa sakit ini. Akhirnya saya cuma bisa teriak takbir Dan istighfar sekeras-kerasnya. Karena saat itulah saya sadar manusia hanyalah selemah-lemahnya makhluk yang tidak bisa apa-apa tanpa campur tangan Allah. Semakin sakit semakin keras teriakan saya. Kaos suami saya sudah nggak tau seperti apa. Saya remas sekuat-kuatnya. Alhamdulillah, jam 9 pagi anak saya lahir, Dan selesai sudah rasa sakit itu.

Lalu apa saya termasuk ibu hebat? Tunggu dulu 

Saya memang tidak pernah punya pengalaman saecar, dan semoga persalinan yang kedua saya bisa normal. Bukan karena apa-apa, tapi karena lebih murah. Hehe. Menurut cerita teman-teman saya yang melahirkan secara saecar, proses persalinan ini juga menyakitkan. Sekarang ya logikanya sesuatu yang utuh kemudian dibelah, apa iya tidak sakit? Sakitlah. Meski pasien dibius ketika operasi, lalu apa setelahnya tidak ada rasa kreyeng-kreyeng sakit? Kalo melahirkan normal, setelah lahiran boleh langsung makan Dan minum. Nah saecar? harus nunggu sampai buang angin dulu baru boleh makan Dan minum. Kemudian belajar duduk, belajar jalan. Apa itu tidak menyakitkan? Dengan kondisi Luka bekas jahitan diperut, si ibu harus sudah belajar duduk, jalan, gendong bayi. Apa nggak hebat?

Lalu Mana yang lebih hebat? SAMA.

semua ibu itu HEBAT. Bahkan para calon ibu yang belum dikaruniai anak, mereka adalah wanita-wanita hebat. Bagaimana tidak? Kesabaran mereka menunggu sang buah hati, kesabaran mereka berusaha melalui program-program hamil, kesabaran mereka menghadapi orang-orang yang suka nyinyir luar biasa soal kehamilan. Menghadapi orang-orang yang sok peduli bertanya, “kapan punya momongan?” Mereka itu hebat. Termasuk para ibu yang mengadopsi anak. Mereka juga hebat. Mereka mampu memberikan kasih sayang seluas-luasnya untuk anak yang meski bukan anak mereka sendiri.

Heiiii, lalu siapa yang lebih hebat disini? Ya semua sama-sama hebatnya. Sama-sama berjuangnya. Lalu buat apa saling mainan hebat-hebatan?

Menulis Itu…


Narablog suka menulis? Saya suka. Karena itu saya punya blog yang nggak bertema ini. Jadi apapun yang saya pikirkan bisa saya tulis dalam blog ini. Tanpa perlu memilah, tanpa perlu mengkotak-kotakan apa yang ingin saya tulis. Karena hidup ini tidak soal mengkotak-kotakkan.

Bagi saya, menulis itu adalah terapi atau obat. Obat apa? Obat untuk melampiaskan rasa sakit yang tak terucap. Obat untuk mencurahkan kesedihan yang tak tersampaikan. Obat untuk menggantikan air mata yang tak mungkin dikeluarkan. Bukankah kata orang, mendengarkan masalah orang lain itu lebih ringan dari pada memikirkan masalah sendiri. Anggap saja dengan menuliskanya, kemudian membacanya berulangkali, kita sama seperti sedang mendengar atau membaca masalah orang lain. Mungkin bisa meringankan.

Terkadang menulis itu juga bisa sebagai suratan kenangan. Ketika saya sedang bahagia, saya juga menuliskannya. Rasanya seperti sedang mengabadikan kebahagiaan dalam hati yang tidak cukup diluapkan dengan tawa dan air mata. Kemudian suatu saat, saya bisa membacanya kembali, bahkan berulangkali. Menyadarkan saya, bahwa Allah itu Maha Baik, Dia pernah menyisipkan kebahagiaan dalam hidup saya, dan itu akan membuat saya kembali mensyukuri hidup ketika saya mulai kufur nikmat.

Kalo kata Soe Hok Gie, “menulis pun kadang melelahkan“. Ya, benar. Menulis itu kadang melelahkan. Ketika saya dikejar deadline yang mematikan. Menulis sudah seperti lari maraton berkilo meter,  jauh, capek, dan panjang. Atau seperti masuk rumah kaca. Buntu. Semakin dikerja waktu, semakin nggak ada ide untuk menulis , semakin berantakan tulisan.

Tidak jarang juga, menulis itu berkah. Berkah untuk siapa? Untuk mereka yang menggantungkan hidupnya dari susunan alphabet bersuku kata. Saya pernah merasakan ini. Meski hanya setahun. Ketika tulisan kamu dibayar, betapa kamu seperti menemukam tambang emas tanpa susah menggalinya.

Menulis itu harapan. Harapan bagi mereka yang mengikuti lomba, atau harapan bagi mereka yang berharap. Seakan seperti doa-doa yang terpanjat abadi. Setelah mengirimkannya berpilin ke langit. Kemudian harapan itu dituliskan bahkan mirip seperti doa yang terus diulang-ulang.

Kamu suka menulis?