Percakapan Terakhir

“Ada kata yang belum sempat terucap, ada rasa yang tersimpan rapat,
dan ada hati yang tertinggal selamanya ditempat”

Hari itu langit cerah, awan putih bergulung manis diatas sana. Ada harap yang menggantung, ada rasa yang tersimpan, ada hati yang terpaut. Langkah Suri tetap ceria, senyumnya merekah, tawanya mewarnai ruang kerjanya, semua terlihat normal seperti biasa, apa adanya. Namun taukah, itulah mengapa ada pepatah ‘Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu’, karena jika kita sedikit saja diberi kemampuan mengintip hati orang lain, maka kita akan tau, hati Suri tak seceria itu.

Hari ini akan ada seseorang yang pergi. Mungkin bisa bertemu lagi, atau jangan-jangan tidak akan kembali. Waktu begitu cepat. Sabtu biasanya menjadi hari paling membosankan sejagad. Bekerja fullday diakhir pekan berarti sama seperti merangkak mengikuti jarum jam. Lama. Namun tidak untuk Sabtu ini.

Berkali-kali Suri mengalihkan pandangannya ke meja kerja depan. Berharap orang yang duduk di sana akan menengok kebelakang, mengajaknya mengobrol, atau mungkin hanya sekedar melempar senyum. Tapi tidak. Orang di depan sana tetap fokus pada pekerjaannya. Ayolahh, ini hari terakhirmu disini, apa tidak ingin mengucap sepatah kata apapun padaku? Suri membatin, berharap ada obrolan yang bisa menjadi kenangan. Setidaknya mengatakan kata-kata perpisahan sebelum benar-benar berpisah.

Detik berganti menit, menit berganti jam, waktu terus berputar. Shalat dhuhur dan ashar pun lewat sudah. Tetap tak ada ucap perpisahan antara mereka. Hanya diam, atau kadang melempar tatap tanpa kata.

Suri menatap kosong layar komputernya. Tidak ada yang dikerjakan, meski harusnya ada berkas yang wajib selesai hari itu. Ya sudahlah, mungkin hanya aku yang merasa, mungkin dia memang tidak punya satu kata perpisahan. Apalah aku, kenapa jadi berharap yang bukan-bukan. Suri merutuki dirinya sendiri.

“Fotonya cantik, Mbak..” sebuah jendela pesan tiba-tiba muncul. Dari dia yang ada di depan sana, dia yang sepertinya fokus sekali pada pekerjaannya.

“Hehe, iya kah? Foto yang mana? Ketik Suri cepat membalas pesannya.

“Tadi fotonya ada, sekarang tiba-tiba ilang”

Ada senyum yang merekah tanpa diperintah, ada hati yang menari karena puji. “Iya, fotonya doang cantik. Aslinya sih biasa aja”

“Cantik kok..”

“Minta ditraktir apa, Mas? Tumben muji?”

“Nggak minta apa-apa kok :)”

“Saya senang bisa kenal kamu.” Kata Suri menjawab pesan tadi.

“Saya juga senang bisa ketemu kamu. Semoga suatu saat bisa ketemu lagi dalam keadaan yang lebih baik, ya..”

“Aamiin. Jangan ganti nomor hape ya..”

Dan sore pun menjadi lebih hangat. Senja menjadi lebih merona karena sebuah percakapan. Percakapan terakhir diambang perpisahan. Percakapan sederhana dengan iringan rasa masing-masing dalam jiwa.

*Cerita diatas adalah fisi. Hari ini saya mencoba menulis fiksi lagi. Dan inilah hasilnya. Saya merasa kurang sreg, tapi sungguh saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Mendapat ide cerita sedikit, dan sedikit ditambah-tambah. Rasanya kaku, mungkin karena lama nggak nulis fiksi. But, ya inilah… semoga besok-besok fiksi saya lebih baik. Aamiin. Menurut Narablog, apa yang kurang?

Posted from WordPress for Android

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s