Tentang Tamu Bernama “Perasaan”

Andai saja aku bisa menyampaikan perasaan dengan kata yang jelas, tegas, dan indah.

Sayangnya aku tidak pernah bisa.

Kamu, tiba-tiba datang dengan cara yang biasa, tanpa diduga. Dan kamu tau? Perasaan ini juga datang dengan cara yang sama. Datang benar-benar tanpa diduga, dengan cara yang begitu biasa dan sederhana. Dia datang, berdiri di depan pintu hati, kemudian pelan mengetuknya, dan….

Sebenarnya jika aku tidak membukakan pintu, pasti perasaan itu juga tidak akan seleluasa ini masuk dan mengobrak-abrik semua relung, tidak akan sebebas ini memasang semua namamu ditiap sudut ruang, tidak seenaknya melukis wajahmu di tiap dindingnya. Aku sendiri yang mempersilahkannya masuk, aku sendiri yang membiarkannya membingkai semua hati dengan segala sesuatunya tentang dirimu.

Dan kini, setelah seluruh relung sempurna terisi oleh kamu, setelah semua terlanjur terasa dan tersimpan, kini aku yang kebingungan. Bingung akan kuapakan ruang hati ini, bingung bagaimana caranya membuat kamu tau bahwa ada tamu yang bernama perasaan, yang beberapa bulan lalu datang, mengketuk-ketuk, kemudian membawa masuk namamu yang kini sempurna mengisi hati. Bingung bagaimana membuatmu juga mau datang ke hatiku, menerimanya, dan membiarkanku tau bahwa kamu juga tengah mengalami hal yang sama. Sama-sama menerima tamu yang bernama perasaan, yang mengetuk hatimu, dan kamu juga membiarkannya masuk membawa dan menuliskan namaku di tiap dinding hatimu.

Sekali lagi, andai saja aku bisa menyampaikan perasaan dengan kata yang jelas, tegas, dan indah.  Sayangnya aku tidak pernah bisa.

Bagaimanalah aku bisa menyampaikannya, jika kamu saja tidak memberikan pertanda bahwa tamu bernama perasaan itu juga menghampiri dan mengetuk seluruh pintu hatimu dengan namaku.

Duhai kamu yang berada di sana. Aku tidak pernah menginginkan apa-apa. Aku juga tidak pernah menginginkan tamu bernama perasaan ini datang. Aku yakin Tuhan yang memintanya datang. Untuk apa? Tentu aku juga tidak tau. Pasti ada rencana baik. Bukankah Tuhan selalu baik, dan Maha Baik.

Maka, akhirnya aku menyampaikannya pada desir angin di malam hari, pada rintik hujan ketika siang, pada embun yang menetes dingin di pagi hari. Dan tentunya aku menyampaikannya pada yang Maha Memberikan perasaan.

Kuputuskan, biar Tuhan sendiri yang menyampaikan perasaan ini padamu. Dengan caranya sendiri. Bukankah tamu bernama perasaan ini datang atas izin-Nya? Maka pasti akan ada cara indah untuk sampai padamu. Cara yang aku dan kamu tidak pernah menduganya.

Semoga cepat tersampaikan. Dan kamu yang di sana mendengarnya dan menyambutnya dengan suka cita. Bahwa tamumu dan tamuku ternyata membawa kabar yang sama-sama membahagiakannya.

 

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s