Hakikat Hujan

Baunya saja menenangkan, apalagi jika dia datang. Tak hanya gemericik suaranya yang menghibur telinga, tapi jika sekali saja wajahmu tersentuh olehnya, maka akan ada  dingin memeluk diri, tentram menyelimuti hati.

Coba sekali saja tengadahkan tangan kalian. Tunggu hingga dia datang, rasakan bagaimana dia memenuhi seluruh indera yang ada. Iya, bukankah begitu hakikat hujan, menentramkan. Rasakan sensasi yang hanya Langit Allah saja yang mampu memberikan. Bukan masalah air yang turun dari atas kemudian beramai-ramai jatuh ke bumi. Tapi sungguh ada rasa yang tak mampu diungkapkan ketika hujan datang, ketika guntur bergelegar, ketika awan berselimut gelap, dan ketika udara membawa bau khas yang menenangkan.

Semua menjadi satu, mewakili rasa, mengulum cerita.

Betapa Allah menyayangi seluruh ciptaannya. Sampai-sampai Allah menciptakan hujan yang selalu membawa cerita sendiri bagi masing-masing penikmatnya.

“Dan dialah yang menurunkan hujan setelah mereka putus asa, dan Dia tebarkan rahmat-Nya, dan Dialah Maha Pemurah lagi Maha Pelindung.” (QS. Asy Syura: 28)

(Ingatkah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu “hujan” dari langit untuk menyucikan kamu dengan “hujan” itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengan telapak kaki(mu).” (QS: Al Anfaal: 11)

“Dan dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijaukan, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 99)

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan di dunia itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasanya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.” (QS: Yunus: 24)

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air “hujan” dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rizki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS: Ibrahim: 32)

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu jangan kamu mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 22)

“Dan Allah menurunkan dari langit air hujan dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah).” (QS. An Nahl: 65)

“Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang memikirkan. (QS. An Nahl: 10-11)

Demikian Allah mengisahkan tentang hujan. Pasti kita pernah merasakan yang demikian itu kan??? Sudah pasti jelas, hujan itu berkah. Dinginnya, baunya, caranya turun, bagaimana hujan membawa rindu paling dalam. Indah sekali. Maka semoga bersama hujan, rindu yang berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan menahun menyesaki dada, akan ikut luruh bersama tetes demi tetes hujan. Semoga rindu yang telah membatu itu pecah bersama dengan guntur yang menggelegar. Semoga rindu yang tak terucap itu sampai pada seseorang di sana bersama angina yang berhembus di antara tetes hujan.

Jadi siapa yang pernah mengumpat hujan? Ahh, rugi sekali. Coba pejamkan mata, dan rasakan bagaimana kita terbawa bersama dia.

5 thoughts on “Hakikat Hujan

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s