Gak Ono Ceritane Kebo Kabotan Sungu


Ummi, Mas Rey, Adek Syam

Yang nggak ngerti arti judul di atas, mana suaranyaaaa??? hahaha. Mari baca sampai tulisan ini selesai.

Jadi ceritanya Desember 2017 ini adalah bulan terakhir saya tinggal di rumah ortu pasca melahirkan anak kedua oktober kemarin. Januari 2018 besok saya dan keluarga kecil saya rencana pindah ke rumah sendiri lagi. Mengurus segala sesuatunya sendiri lagi, mandiri lagi.

Lalu??

Apakah saya siap ngurusi dua anak yang selisih usianya hanya satu tahun sendirian saja?????

Yaaaaa… harus siap. Harus bisa. Ada yang bilang bisa itu karena terpaksa, kan? Ehh, bukan berarti saya terpaksa ngurusi anak-anak saya. Tapi saya memaksa diri saya agar bisa menjadi ibu yang setrong sesetrong setrongnya. Bisakah saya?

Suatu waktu saya merasa sangat bingung dengan keputusan ini. Ketakutan akan ketidakbisaan ngurusi anak dua yang cuma selisih satu tahun ini setiap hari mengusik hati dan pikiran. Ya Allah, masa iya saya bisa? Nanti kalau dua-duanya nangis gimana? Nanti kalo begini gimana? Kalo begitu? Dan gimana-gimana yang lain pun bertebaran dalam pikiran saya.

Banyak sih yang bilang, pasti bisa. Tapi ngomong mah gampang, njalaninya???

Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk curhat sama Anna. Teman kuliah saya yang sudah setrong banget jadi ibu. Dia juga punya dua anak yang selisih juga tidak terlalu jauh, tapi ya nggak selisih tahun sih, lebih. Tapi sama kan, dia juga ngurusi dua anak kecil di rumahnya sendiri. Mereka berempat merayakan kehidupan di istana mereka sendiri.

Jawaban teman saya ini cukup menampar. Katanya…

GAK ONO CERITANE KEBO KABOTAN SUNGU


Artinya adalah nggak ada yang namanya kerbau keberatan tanduk. Kata Anna, nggak mungkin seseorang nggak mampu mengatasi pemberian Allah atas dirinya. Bukankah  Allah memberikan sesuatu sesuai dengan kemampuan hambanya???

Saya tertohok dengan kalimat itu. Ya bener. Allah memberikan sesuatu pada yang pantas dan bisa, maka saya ini sudah bisa. Allah mempercayakan dua anak untuk saya urusi, berarti saya bisa kan?

Entah, saya seperti tersihir dengan percakapan dengan Anna waktu itu. Seperti ada keyakinan baru yang entah bersembunyi di mana kemarin-kemarin.

“Trus kalo dua-duanya nangis piye?” tanya saya lagi sama Anna. Kata Anna, berikan hatimu pada mereka, pasti kamu tau bagaimana harus bersikap. Duhh kahhh, jawabannya romantis beeuutt.. Anna main hati kannn kannn kannn… hahaha

Well InsyaAllah saya bisa. Harus bisa. Doakan saya ya, Narablog…. 😊

Advertisements

Jangan Lupa Bahagia


Bahagia itu bukan hanya soal harta yang kita punya. Bukan tentang seberapa gemuk rekening kita. Bukan mengenai seberapa besar dan mewah rumah yang kita tinggali.

Tapi bahagia itu menyoal rasa. Bukan rasa yang dulu pernah ada lho ya… Bahagia itu soal rasa dalam hati yang senantiasa bersyukur dengan apa yang dimiliki dan menerima segala sesuatunya dengan lapang hati. Tentang pikiran yang dipenuhi dengan hal-hal positif.

Capek lho brooo…sisss.. ketika hidup anda dipenuhi dengan urusan menyalahkan orang lain dan merasa benar sendiri. Lelah lhooo budhe pakde kalau hidup anda selalu dalam lingkaran kebencian dan pikiran negatif. Apa ndak capek? Apa ndak lelah? Saya bayangin aja ruwet, apalagi njalani nya?

Nggak peduli rumah kamu besar atau kecil, nggak peduli uang harta kekayaanmu melimpah (yaaa tapi banyak duit lebih okey sih…hahaha), yang harus kita pedulikan adalah selalu bersyukur untuk merasa bahagia. Hidup dalam rumah sederhana pun kita bisa merasakan kebahagian yang aduhai. Pandailah menempatkan diri, hmmm.. kira-kira gimana ya kalo jadi dia? Mengapa demikian? Ya agar kita bisa selalu bisa menjaga hati siapa saja, agar kita tidak selalu asal bicara, agar kita tidak selalu menyalahkan orang atau keadaan. Bersyukur, berpikir positif dan siap-siap bahagia.

Jadiii, jangan lupa bahagia ya… Menangis tak apa. Menangis bukan tanda tidak bahagia. Menangislah untuk menjadi bahagia. Karena kadang menangis hanya jembatan untuk membuat hati lega dan menang karena berhasil menahan amarah dan tutur kata kasar yang menyakitkan.

Selamat berbahagia… Kalo perlu pake shampo baby yang ada no more tears formulanya, biar bahagia… hahaha

Ummi Bahagia


Mas Rey & Adek Syam

Nyenengin ibuk-ibuk itu gampang kok. Cukup anak-anaknya anteng,  gak rewel, duhhhh ibuk udah bahagianya dunia akhirat.

Seperti kemarin, Mas Rey dan Adek Syam pinter banget jadi anak sholeh. Mereka nggak seribet biasanya. Mas Rey sarapan dengan lahap, mulutnya dibuka lebar, nggak pake mingkem-mingkem ala GTM seperti biasanya. Yaaa.. meskipun nggak habis bersih, tapi sisanya cuma dikit.

Selain itu, habis sarapan mainan sebentar, terus Mas Rey sendiri yang ngajakin bobok. Jam 8.30 dia jalan sendiri ke kamar (eh iya, Mas Rey sekarang sudah bisa jalan, lhooo…), naik ke tempat tidur sendiri, terus dibikinin susu ehhh nggak sampe 5 menit, Mas Rey sudah bobok ganteng.

Terus kalo Adek Syam gimana? Adek Syam juga pinter bingo. Bangun tidur pagi, setelah dimandiin, dinenenin sebentar dia terus bubuk. Agak lama bangun minta nenen, dineneni sebentar udah bobok lagi sampe siang. Padahall ya Narablog, biasanya Adek Syam ini kalo nenen lamaaaaa banget. Bisa berjam-jam. Nenennya dilepas nangis, minta nenen lagi, ditaruh nangis. Kannn Ummi nya jadi capekkkkk, Dekk.

Nahhh, karena kemarin Mas Rey dan Adek Syam nya pinter nggak rewel, jadi Ummi nya a.k.a saya bahagia tiada taraaaa. Yesss, ummi jadi bisa cuci-cuci tanpa terkendala apapun, bisa lempit-lempit baju yaaa meski belum disetrika, at least bajunya agak rapian kan di bak cucian. Jadi nggak bikin mata sumpek. Karena sesungguhnya ibu rumah tangga nggak boleh jadi sumpek. Sekali dia sumpek, sumpek pula seisi rumah.

Pinter terus yaaa para gantengnya Ummi. Ummi love you both.. Mmmuuuacchhh.